Bidik24.com, SINGKIL – Harga kelapa di Kabupaten Aceh Singkil mengalami lonjakan signifikan di tingkat pedagang eceran. Harga per butir naik 100 persen, dari sebelumnya Rp 5 ribu menjadi Rp 10 ribu, belum termasuk biaya untuk mengukur atau memarut kelapa. Kenaikan ini terjadi secara bertahap sejak sebulan terakhir.
Wati, seorang ibu rumah tangga di Singkil, mengeluhkan kenaikan harga tersebut. “Sekarang kelapa sudah sepuluh ribu, padahal sebelumnya cuma lima ribu. Bahkan yang kecil dulu bisa tiga ribu,” ujarnya, Selasa (17/12/2024). Kondisi ini cukup memberatkan, terutama karena kelapa merupakan bahan utama untuk santan, yang digunakan dalam masakan sehari-hari seperti gulai ikan, menu favorit warga Aceh Singkil.
Menurut pedagang, kenaikan harga kelapa dipicu oleh berkurangnya pasokan. Sebelumnya, kebutuhan kelapa lokal dipenuhi dari Kepulauan Banyak. Namun, kini pasokan kelapa dari wilayah tersebut lebih banyak dikirim ke Medan, Sumatera Utara, karena harganya lebih menguntungkan dan dapat dijual dalam jumlah besar. Akibatnya, kebutuhan kelapa di Aceh Singkil hanya mengandalkan pohon kelapa di daratan, yang jumlahnya semakin berkurang.
Penurunan jumlah pohon kelapa di daratan Aceh Singkil terjadi akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit yang menggantikan lahan kelapa. Selain itu, pemilik pohon kelapa lebih sering menjual kelapa muda, karena permintaannya tinggi dan harganya lebih mahal. Harga kelapa muda berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per butir, jauh lebih menguntungkan dibandingkan kelapa tua yang hanya Rp 10 ribu.
Situasi ini menyebabkan persediaan kelapa tua sebagai bahan baku santan semakin berkurang, sehingga harga kelapa melonjak dan membebani konsumen lokal, terutama ibu rumah tangga.
Sum : Serambinews.com















