Home / Ekonomi

Kamis, 5 Maret 2026 - 11:23 WIB

AS Kembali Gunakan Kayu Bakar Setelah Penutupan Selat Hormuz

Bidik24.com – Jakarta. Keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia, sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) langsung mengguncang pasar energi global. Langkah ini memicu ketakutan besar akan lonjakan harga minyak dan potensi penurunan pasokan, mengingat ketergantungan banyak negara terhadap jalur strategis ini untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.

Selat Hormuz, yang setiap harinya mengangkut sekitar 20 hingga 25 juta barel minyak mentah dan gas alam cair (LNG), menjadi titik fokus utama dalam perdagangan energi internasional. Begitu Iran mengumumkan penutupan jalur ini, pasar minyak global langsung bereaksi dengan lonjakan harga yang signifikan, serta peningkatan ketidakpastian tentang pasokan energi global.

Langkah ini mengingatkan banyak pihak pada krisis energi besar yang melanda Amerika Serikat pada tahun 1979, saat Iran yang kala itu dipimpin oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu dekat AS, mengalami revolusi besar. Kejatuhan monarki Iran dan kebangkitan Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini menyebabkan gejolak politik yang berdampak langsung pada sektor energi. Produksi minyak Iran yang semula mencapai 5,8 juta barel per hari, anjlok menjadi hanya 445.000 barel per hari pada awal 1979 akibat pemogokan pekerja, eksodus tenaga kerja asing, dan gangguan operasional kilang-kilang minyak.

Baca Juga  Kabur ke Luar Negeri, Riza Chalid Resmi Berstatus Buronan Internasional

Penurunan produksi minyak yang tajam ini mengguncang pasokan global, memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai US$20 per barel dan menyebabkan inflasi tinggi di negara-negara pengimpor minyak. Amerika Serikat, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari negara-negara penghasil minyak, mengalami krisis pasokan energi yang parah. Antrean panjang di hampir seluruh SPBU di AS menjadi pemandangan sehari-hari, dengan banyak stasiun pengisian bahan bakar yang menempelkan papan bertuliskan “Sorry, No Gas” atau “No More Gas Today”. Bahkan, sebagian warga AS kembali menggunakan kayu bakar sebagai alternatif penghangat ruangan.

Krisis ini berlangsung selama delapan bulan, jauh lebih panjang dibandingkan dengan krisis minyak yang terjadi pada tahun 1973, yang dipicu oleh embargo OPEC terhadap negara-negara pendukung Israel. Pada 1979, Presiden Jimmy Carter bahkan menyatakan bahwa krisis energi tersebut adalah krisis nasional, dan mendesak masyarakat untuk mengurangi konsumsi energi serta beralih ke sumber energi alternatif. Kejadian ini menjadi titik balik bagi kebijakan energi AS, yang kemudian memperkuat cadangan strategis energi dan berusaha mengurangi ketergantungan pada minyak impor, terutama dari Iran, yang akhirnya dihentikan total pada akhir 1979.

Baca Juga  Bukalapak Berhenti Jual Produk Fisik PHK Karyawan dan Fokus ke Produk Virtual

Kini, dengan ketegangan baru di sekitar Selat Hormuz, bayangan krisis energi seperti yang terjadi pada 1979 kembali menghantui Amerika Serikat dan negara-negara pengimpor minyak lainnya. Mengingat ketergantungan dunia terhadap jalur ini, setiap gangguan terhadap kelancaran pengiriman energi selalu menimbulkan kecemasan global, mengingat dampaknya yang bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi dunia.

Para analis pasar dan pejabat pemerintahan akan terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, mengingat potensi dampak besar yang bisa terjadi terhadap pasokan energi global dan harga minyak dalam jangka pendek maupun panjang.

Sub. hcnbcindonesia.com

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Lolos Uji Kelayakan DPR, Friderica Widyasari Dewi Pimpin OJK

Ekonomi

Ditegur Mahkamah Agung, Trump Pilih Gaspol Perang Tarif

Ekonomi

Antara Tradisi dan Janji, Kisah Uang Meugang di Pendopo

Ekonomi

Kabur ke Luar Negeri, Riza Chalid Resmi Berstatus Buronan Internasional

Ekonomi

Ketua KPK Tanggapi Klaim Noel soal Menkeu Purbaya: Kami Hanya Berpegang pada Fakta Persidangan

Ekonomi

Emas Menggila! Antam Cetak Rekor, Semua Merek Kompak Naik

Ekonomi

Heboh Video TikTok Soal Rekening Jokowi, Kemenkeu Pastikan Itu Berita Bohong

Ekonomi

Komisi I DPRK Aceh Selatan Uji Konflik Kepentingan Proyek Tapaktuan Sport Center