Home / Pendidikan

Sabtu, 11 Januari 2025 - 09:54 WIB

Satryo Soemantri: Sosok Indonesia di Balik Revolusi Kampus Jepang!

Satryo Soemantri Brodjonegoro, penggagas konsep otonomi kampus, saat mengenang pengalamannya mempresentasikan ide tersebut di hadapan Kementerian Pendidikan Jepang pada tahun 2001

Satryo Soemantri Brodjonegoro, penggagas konsep otonomi kampus, saat mengenang pengalamannya mempresentasikan ide tersebut di hadapan Kementerian Pendidikan Jepang pada tahun 2001

Bidik24.com, Jakarta – Satryo Soemantri Brodjonegoro, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Indonesia, dikenal luas sebagai tokoh yang merumuskan konsep otonomi kampus di Indonesia. Konsep ini mulai diperkenalkan ketika ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) pada tahun 2000. Dalam masa jabatannya yang berlangsung dari 1999 hingga 2007, Satryo berhasil menarik perhatian berbagai negara yang ingin mempelajari konsep tersebut.

Satryo mengungkapkan bahwa kementerian pendidikan dari sejumlah negara datang untuk “berguru” mengenai otonomi kampus. Salah satu negara yang menunjukkan minat besar adalah Jepang, seperti yang diceritakannya dalam wawancara khusus dengan detikedu di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta, Jumat (10/1/2024).

Undangan dari Kementerian Pendidikan Jepang

Pada tahun 2001, Satryo menerima undangan dari Kementerian Pendidikan Jepang untuk mempresentasikan konsep otonomi kampus yang baru dirumuskannya. Dalam pertemuan tersebut, ia berbicara di hadapan para pemimpin kementerian pendidikan Jepang.

“Jepang mengundang saya pada tahun 2001 untuk memberikan ceramah tentang otonomi kampus. Saya berbicara langsung di depan para pimpinan Kementerian Pendidikan Jepang,” kenangnya.

Baca Juga  Trump Dilantik Kembali Sebagai Presiden AS Meski Berstatus Terpidana

Menteri Pendidikan Jepang saat itu bahkan bertanya kepada Satryo apakah konsep tersebut dapat diterapkan di Negeri Sakura. Jepang, yang dikenal dengan tradisinya yang konservatif, sempat diragukan mampu melaksanakan ide baru tersebut. Namun, Satryo yang juga merupakan doktor di bidang teknik mesin dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat, meyakinkan bahwa penerapan otonomi kampus sangat mungkin dilakukan.

“Saat itu menterinya bertanya, ‘Kira-kira Jepang bisa tidak, Pak Satryo?’ Saya bilang, ‘Oh, pasti bisa!'” ujar Satryo dengan penuh keyakinan.

Komitmen: Kunci Sukses Otonomi Kampus

Satryo menjelaskan bahwa keberhasilan penerapan otonomi kampus sangat bergantung pada komitmen dari semua pihak, terutama pembuat kebijakan. Dalam konteks Jepang, ia menekankan bahwa dukungan dari Perdana Menteri Junichiro Koizumi saat itu menjadi faktor kunci.

“Yang penting adalah komitmen dari semua pembuat kebijakan. Perdana menteri, kabinet, jajaran pemerintah, perguruan tinggi, hingga dosen-dosen, semuanya harus mendukung. Kalau itu ada, pasti berhasil,” tegasnya.

Hasilnya, hanya dalam waktu tiga tahun, tepatnya pada tahun 2004, semua perguruan tinggi di Jepang berhasil mendapatkan otonomi.

Baca Juga  Tragedi Maut di Aceh Tamiang: Ibu dan Anak Tewas Tertimpa Pohon Kelapa Sawit yang Sudah Mati!

“Pada 2004, semua kampus di Jepang sudah otonom. Ini karena semua pihak berkomitmen,” ujarnya dengan bangga.

Perbandingan dengan Indonesia

Di Indonesia, meskipun konsep otonomi kampus telah diterapkan sejak awal 2000-an, perjalanan penerapannya tidaklah mudah. Satryo mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama adalah resistensi terhadap perubahan.

“Di Indonesia sulit, karena banyak orang cenderung nyaman dengan zona nyaman mereka,” jelasnya.

Namun demikian, konsep ini telah membawa perubahan signifikan di dunia pendidikan tinggi. Bahkan, sejumlah kampus di Jepang yang mengadopsi sistem otonomi kampus kini berhasil masuk dalam jajaran 100 universitas terbaik di dunia, seperti University of Tokyo dan Kyoto University.

Pengalaman dan kontribusi Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam memperkenalkan konsep otonomi kampus tidak hanya mengubah lanskap pendidikan tinggi di Indonesia tetapi juga menginspirasi negara lain, termasuk Jepang, untuk melakukan transformasi besar dalam sistem pendidikan tinggi mereka.

Sub detik.com

Share :

Baca Juga

Pendidikan

IGORNAS Aceh Bagikan Informasi Beasiswa Negara Islam 2026 untuk Mahasiswa

Pendidikan

warek III Lantik Sejumlah UKM Baru di Universitas Syiah Kuala

Pendidikan

Pernyataan ‘Cukup Saya WNI’ Picu Badai, Mendikti Tegaskan Integritas Harga Mati

Pendidikan

Beasiswa S1 ke Eropa, Impian Mahasiswa Indonesia Semakin Terjangkau

Pendidikan

Rakor MIN 20 Aceh Besar Susun Proker 2026 dan Evaluasi Kinerja 2025

Pendidikan

Perkuat Pembelajaran Mendalam, Madrasah Gelar Wisata Edukasi Kokurikuler

Pendidikan

Aliran Dana Chromebook Diduga Masuk Kantong Pejabat, Nadiem Mengaku Terkejut

Pendidikan

Tgk Agam Apresiasi Pembayaran Insentif Guru, Sebut Bukti Kepedulian Pemerintah