Bidik24.com, Jakarta – Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang siswa SD swasta di Jalan STM, Kota Medan, yang disuruh belajar di lantai oleh wali kelasnya karena menunggak pembayaran uang sekolah selama tiga bulan. Video tersebut menimbulkan kecaman publik, dan Kepala Sekolah SD Juli Sari memberikan klarifikasi terkait insiden tersebut.
Menurut Juli, peristiwa tersebut disebabkan oleh miskomunikasi yang terjadi di antara pihak sekolah dan wali kelas. “Sebenarnya, tidak ada peraturan di sekolah yang mengharuskan siswa dihukum seperti itu. Ini hanya miskomunikasi saja. Anak tersebut tidak menerima rapor karena belum melunasi uang SPP,” ungkap Kepala Sekolah Juli Sari, dilansir dari detikSumut pada Jumat (10/1/2025).
Juli menegaskan bahwa pihak sekolah tidak memiliki kebijakan untuk menghukum siswa yang belum membayar uang sekolah. Namun, ia mengungkapkan bahwa wali kelas tersebut mengambil keputusan sepihak yang menyatakan bahwa siswa yang belum mengambil rapor tidak boleh mengikuti pelajaran.
“Masalahnya adalah wali kelas tersebut membuat aturan sendiri di kelas, yang mengharuskan siswa yang belum mengambil rapor tidak boleh mengikuti pelajaran. Hal ini dilakukan tanpa berdiskusi atau berkompromi terlebih dahulu dengan pihak sekolah,” jelas Juli.
Tindak Lanjut dan Permintaan Maaf
Juli juga menambahkan bahwa setelah kejadian itu, ia segera bertindak untuk menyelesaikan masalah. Kepala sekolah ini mengungkapkan bahwa dia telah meminta maaf kepada orang tua siswa pada hari yang sama. “Setelah kejadian, orang tua siswa tersebut datang ke sekolah dan menangis. Kami segera mengundang mereka ke kantor untuk menjelaskan kronologi kejadian. Pada hari itu juga masalah ini kami selesaikan,” kata Juli.
Lebih lanjut, Juli menyatakan bahwa meskipun insiden tersebut sempat menimbulkan ketegangan, anak tersebut tetap melanjutkan sekolah di institusi tersebut tanpa ada hambatan. “Sebagai kepala sekolah dan mewakili pihak wali kelas, saya memohon maaf kepada orang tuanya. Anak itu tetap melanjutkan sekolah dan sampai sekarang masih bersekolah di sini,” ujar Juli.
Miskomunikasi yang Berpotensi Merusak Citra Sekolah
Insiden ini menjadi sorotan karena mencerminkan bagaimana kebijakan internal yang tidak jelas dan peraturan yang diterapkan secara sepihak bisa menimbulkan masalah. Meskipun tidak ada aturan resmi yang mengizinkan penghukuman fisik atau psikologis terhadap siswa, tindakan wali kelas tersebut menggambarkan ketidakharmonisan antara kebijakan sekolah dan perilaku individu di lapangan.
Pihak sekolah telah berusaha mengatasi masalah ini dengan cepat, namun kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang melibatkan siswa harus melalui prosedur yang jelas dan dengan koordinasi yang baik antara semua pihak terkait. Meskipun masalah ini telah diselesaikan, penting bagi semua pihak di dunia pendidikan untuk selalu menjaga komunikasi yang terbuka agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Sub detik.com















