Bidik24.com – OPINI, Negeriku kembali dilanda bencana.
Langit seolah kehilangan belas kasih. Hujan turun tanpa jeda, bukan sekadar membasahi tanah, tetapi menenggelamkan harapan. Angin menderu membawa ketakutan, dan bumi bergerak seakan marah—menjatuhkan apa yang selama ini kami bangun dengan doa, keringat, dan kesabaran.
Dalam hitungan jam, rumah yang menjadi saksi lahirnya tawa dan air mata runtuh menjadi puing. Sawah yang dahulu hijau—tempat para ayah menggantungkan hidup—lenyap ditelan lumpur. Jalan terputus, akses terhenti, dan kehidupan seolah dipaksa berhenti tanpa aba-aba.
Di balik angka korban dan data kerusakan, ada cerita yang tak tertulis di laporan resmi. Ada anak-anak yang malam itu tidur tanpa pelukan rumahnya sendiri, menggigil di pengungsian sambil bertanya dengan mata polos, “Ayah, kapan kita pulang?” Ada orang tua yang duduk mematung, memandangi sisa rumah dengan mata kosong—bukan karena tak kuat menangis, tetapi karena air mata pun telah habis. Ada ibu-ibu yang berusaha tersenyum di hadapan anaknya, padahal hatinya remuk oleh kecemasan akan hari esok.
Bencana bukan hanya menghancurkan bangunan. Ia merobek rasa aman. Ia meruntuhkan kepastian hidup. Ia menguji iman, kesabaran, dan kemanusiaan kita.
Namun di tengah duka itu, negeriku menunjukkan wajah sejatinya. Negeri ini kaya—bukan hanya oleh alam, tetapi oleh hati. Tangan-tangan relawan datang tanpa diminta. Dapur umum menyala di tengah gelap. Doa-doa mengalir dari masjid, meunasah, hingga sudut-sudut pengungsian. Gotong royong kembali menjadi bahasa yang paling jujur ketika kata-kata tak lagi cukup.
Tetapi izinkan aku berkata jujur: solidaritas saja tidak cukup. Setiap bencana yang berulang adalah luka lama yang kembali dibuka. Kita bertanya dalam diam—mengapa ini terus terjadi?
Tata ruang yang abai, alam yang dieksploitasi tanpa nurani, sungai yang dipersempit, hutan yang ditebang, dan mitigasi yang sering dianggap formalitas—semuanya kini menagih harga yang terlalu mahal: penderitaan rakyat kecil.
Alam tidak pernah benar-benar murka. Kitalah yang sering lupa menjaga keseimbangan.
Hari ini, negeriku tidak hanya membutuhkan empati sesaat atau bantuan yang datang lalu pergi. Negeriku membutuhkan keberanian—keberanian untuk berubah. Pemulihan harus cepat dan adil. Bantuan harus sampai ke tangan yang benar-benar membutuhkan. Pembangunan pascabencana harus lebih manusiawi, lebih tangguh, dan berpihak pada keselamatan, bukan sekadar proyek.
Negeriku memang sedang dilanda bencana.
Namun di antara reruntuhan, aku masih melihat harapan. Selama masih ada kepedulian, selama kita mau belajar dari luka, selama nurani belum mati, negeri ini akan bangkit. Bukan hanya berdiri kembali, tetapi tumbuh menjadi negeri yang lebih bijak, lebih adil, dan lebih beradab.
Semoga air mata hari ini menjadi pengingat, bukan sekadar kenangan.
Ditulis oleh:
Dr. Muhammad Iqbal, M.Pd., AIFO
Ketua Umum IGORNAS Aceh
Dosen PJKR Universitas Syiah Kuala















