Bidik24.com – Opini. Di era digital seperti sekarang, akses terhadap informasi menjadi sangat mudah. Hampir semua hal dapat kita cari dan temukan hanya dalam hitungan detik melalui kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence). Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: jika AI mampu menyajikan data dengan cepat dan efisien, apakah peran guru sebagai “sumber ilmu” masih relevan?
Perdebatan ini sering membuat esensi pendidikan menjadi kabur, padahal pendidikan jauh lebih luas daripada sekadar memberikan informasi. Peran guru tidak menghilang—mereka justru berevolusi. Di tengah melimpahnya informasi yang tersedia secara cepat dan tanpa batas, peran guru bergeser dari penyampai pengetahuan menjadi pembimbing belajar. Karena informasi bisa didapatkan dengan mudah, tugas utama guru kini adalah mengajarkan cara menyaring, memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan bijak. Guru membantu siswa mengubah informasi mentah menjadi pengetahuan yang bermakna, sekaligus menjadi mentor yang menanamkan pemikiran kritis, kecerdasan emosional, dan pembentukan karakter—hal-hal yang tidak dapat diberikan oleh mesin.
Transformasi peran guru di era AI ini sejalan dengan trilogi pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Ing Ngarsa Sung Tuladha mengajarkan bahwa guru harus menjadi teladan, termasuk dalam menggunakan AI dengan bijak, memvalidasi sumber informasi, serta menjauhi plagiarisme. Guru perlu menunjukkan integritas, moralitas, dan etika dalam proses pembelajaran. Ing Madya Mangun Karsa menegaskan bahwa di tengah-tengah siswa, guru berperan membangun semangat dan kreativitas. Di era ini, guru harus mampu merancang metode pembelajaran yang memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan alat pengganti, sehingga siswa terdorong untuk memecahkan masalah dan mengembangkan kreativitas. Selanjutnya, Tut Wuri Handayani menekankan pentingnya memberikan dorongan dari belakang. Setiap siswa memiliki keunikan, bakat, dan kecepatan belajar masing-masing. Guru harus menjadi mentor yang memberikan ruang, dukungan, serta kebebasan agar siswa dapat tumbuh sesuai potensinya, terutama dalam aspek kemanusiaan yang tidak bisa dinilai oleh mesin.
Karena itu, peran guru di era AI bukanlah hilang. Justru, mereka kini semakin esensial. Di tengah derasnya arus teknologi dan informasi, guru memastikan siswa tetap tumbuh sebagai manusia yang berpikir kritis, beretika, dan berkarakter. Guru tidak lagi hanya mengajarkan apa yang harus dipelajari, tetapi bagaimana cara menjadi manusia yang bijaksana dalam memanfaatkan pengetahuan.
Penulis:
Muhammad Afdhal,
Nayla Cindy,
Safirah Rahmadhani,
Tiara Asyifa,
Wardani,
Universitas Syiah Kuala,
Prodi Bahasa Inggris FKIP USK















