Bidik24.com – Banda Aceh – Para pengrajin cincau di Kota Banda Aceh melaporkan adanya peningkatan permintaan cincau sebagai bahan campuran minuman selama bulan Ramadhan 1446 Hijriah atau tahun 2025 Masehi.
Menurut Djoek Fa, salah satu pengrajin cincau di Banda Aceh, permintaan biasanya meningkat pada awal hingga pertengahan Ramadhan sebelum kembali normal. “Di awal puasa ini, permintaan cincau meningkat. Tren ini biasanya berlangsung hingga pertengahan Ramadhan, lalu kembali ke kondisi biasa,” ujarnya, Senin.
Djoek Fa menjelaskan bahwa produksi cincau dalam beberapa hari pertama Ramadhan mencapai sekitar 400 kaleng per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan produksi harian di luar bulan puasa yang hanya sekitar 40 hingga 50 kaleng. Namun, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, permintaan cincau justru mengalami penurunan. “Tahun lalu, permintaan mencapai 500 hingga 700 kaleng per hari, sedangkan tahun ini hanya sekitar 400-an kaleng,” ungkapnya. Meskipun begitu, permintaan selama Ramadhan tetap lebih tinggi dibandingkan hari biasa.
Produk cincau yang dihasilkan tidak hanya dijual di Kota Banda Aceh dan sekitarnya, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah di Aceh, termasuk wilayah pantai barat hingga Tapaktuan, Aceh Selatan, serta ke Pulau Simeulue. Di pantai timur, cincau ini juga didistribusikan hingga ke Kabupaten Bireuen.
Terkait harga, Djoek Fa mengatakan bahwa satu kaleng cincau dijual dengan harga Rp25 ribu. Harga ini belum mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, meskipun biaya bahan baku terus meningkat dan saat ini berkisar antara Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
“Bahan baku selama ini tetap tersedia dan kami mendatangkannya dari Sumatera Utara serta Pulau Jawa, karena di Aceh sendiri belum ada produksi bahan baku cincau. Kendala utama hanyalah keterlambatan pasokan,” jelasnya.
Usaha cincau yang dijalankan Djoek Fa merupakan bisnis keluarga yang telah diwariskan selama tiga generasi di Banda Aceh.
Sub. atjehwatch















