Bidik24.com, Jakarta – Pengamat sepak bola Indonesia, Mohamad Kusnaeni, menilai langkah PSSI yang membuka seleksi untuk asisten pelatih lokal di tim nasional Indonesia adalah sebuah langkah yang memiliki dua sisi, baik positif maupun negatif. Seleksi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi pelatih lokal, khususnya untuk mendampingi Patrick Kluivert, pelatih kepala timnas Indonesia, dalam meningkatkan kualitas sepak bola tanah air.
Menurut Kusnaeni, di satu sisi, seleksi ini merupakan langkah yang baik, karena memberikan kesempatan kepada pelatih lokal yang mungkin selama ini kurang mendapatkan perhatian atau kesempatan untuk berkembang. “Seleksi pelatih lokal untuk mendampingi Kluivert merupakan langkah yang positif. Model pemilihan yang dilakukan langsung oleh Kluivert ini memberi peluang bagi para pelatih berbakat yang mungkin sebelumnya tidak mendapat kesempatan yang sama,” ujar Kusnaeni, yang akrab disapa Bung Kus, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu (22/1/2025).
Namun, di sisi lain, Bung Kus juga mengingatkan bahwa proses rekrutmen terbuka ini menggambarkan ketidaksolidan struktur kepelatihan timnas Indonesia, terutama ketika melihat jumlah pelatih Indonesia yang memiliki lisensi dari D hingga Pro yang mencapai sekitar 5.000 orang. “Model rekrutmen terbuka seperti ini sesungguhnya mencerminkan belum solidnya struktur kepelatihan timnas. Idealnya, asisten pelatih timnas senior harus berasal dari pelatih-pelatih yang sudah lebih dulu bekerja di timnas kelompok usia di bawahnya,” tambahnya.
Bung Kus berpendapat bahwa seharusnya ada sistem promosi yang lebih terstruktur dan berjenjang di dalam dunia kepelatihan timnas. Para pelatih yang berprestasi di level kelompok usia bisa diberi kesempatan untuk naik ke timnas senior sesuai dengan pengalaman dan perkembangan mereka. “Sistem promosi yang berbasis pada level kelompok umur harusnya diterapkan agar ada jalur pengembangan bagi para pelatih. Dengan demikian, pelatih-pelatih ini bisa terus berkembang dan mendapatkan pengalaman di level yang semakin tinggi,” jelas Bung Kus.
Menurutnya, penerapan sistem kaderisasi pelatih secara berjenjang sangat penting untuk kemajuan sepak bola Indonesia ke depan. “Untuk itu, kehadiran Direktur Teknik yang kompeten di PSSI menjadi sangat penting. Direktur Teknik ini yang seharusnya menangani wilayah pengembangan pelatih, sehingga ada rencana jangka panjang dalam mengembangkan kualitas pelatih di Indonesia,” tambahnya.
Mengenai kriteria yang tepat untuk asisten pelatih lokal yang akan mendampingi Kluivert, Bung Kus menyebutkan bahwa hanya Kluivert yang paling tahu apa yang dibutuhkan tim. Namun, ia menekankan bahwa pelatih tersebut harus memiliki pengalaman dan kualifikasi yang memadai, baik di level klub maupun di timnas. “Tentu Kluivert yang lebih tahu tentang kebutuhan tim, tapi yang jelas asisten pelatih harus memiliki pengalaman melatih yang kuat dan kualifikasi yang sesuai, baik di level klub atau di timnas kelompok usia,” ujarnya.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, sebelumnya mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mencari 10 pelatih terbaik di Indonesia untuk mendampingi Kluivert di tim Garuda. Dari sepuluh pelatih ini, dua akan dipilih untuk menjadi asisten pelatih, dengan penunjukannya melibatkan diskusi dengan Kluivert. Keberadaan dua asisten pelatih lokal ini merupakan bagian dari upaya transfer pengetahuan yang sudah disepakati sejak awal oleh PSSI dan Kluivert. Selain itu, Kluivert juga berencana menambah asisten pelatih dari Belanda yang akan bekerja untuk timnas U-17, U-20, dan U-23 guna memastikan sinkronisasi dalam pengembangan tim.
Erick Thohir juga menyebutkan bahwa PSSI akan menyiapkan satu asisten pelatih yang khusus menangani regenerasi pemain di kelompok umur. “Ini adalah bagian dari upaya kami untuk meningkatkan kualitas pelatih lokal di Indonesia. Kita lihat saja bagaimana pelatih lokal seperti Nova Arianto yang bekerja di timnas U-17 dan Indra Sjafri di timnas U-20, yang sudah memberikan kontribusi besar,” ujar Erick.
Dengan langkah ini, PSSI berharap kualitas pelatih Indonesia bisa meningkat, serta bisa menghasilkan timnas yang lebih kompetitif di berbagai level usia. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menciptakan sistem pengembangan pelatih yang berkelanjutan dan terstruktur agar kualitas sepak bola Indonesia terus berkembang di masa depan.
Sub Antaranews.com















