Bidik24.com – Suriah. Pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al Assad resmi berakhir pada Minggu, 8 Desember, setelah pemberontakan besar yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS) berlangsung selama 11 hari. HTS, yang diketuai Abu Mohammed al-Julani, adalah kelompok yang pernah memiliki hubungan dengan Al Qaeda dan ISIS.
Pemberontakan ini dimulai di Idlib pada 27 November dan berlanjut ke Aleppo sebelum akhirnya mencapai Damaskus, tempat tinggal Presiden Assad, pada 8 Desember. Al Assad melarikan diri tanpa perlawanan, diduga karena krisis ekonomi di Suriah dan berkurangnya dukungan militer dari Rusia dan Iran. Rusia teralihkan oleh invasi ke Ukraina, sementara Iran dan Hizbullah menghadapi tekanan dari serangan Israel.
HTS berhasil menyatukan berbagai faksi oposisi, milisi, dan warga sipil dalam perjuangan melawan Assad, sebuah upaya yang dilakukan selama lebih dari satu tahun. Sebelumnya, HTS menghadapi kritik karena dianggap terlalu otoriter dan kurang aktif melawan rezim Assad. Namun, mereka melakukan reformasi, termasuk pembubaran pasukan keamanan yang kontroversial dan pembentukan “Departemen Pengaduan” untuk menampung keluhan masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Al Julani, HTS berusaha menampilkan citra lebih moderat untuk menarik dukungan masyarakat dan komunitas internasional, sambil tetap mempertahankan identitas Islamis untuk memuaskan kelompok garis keras. Al Julani, mantan anggota Al Qaeda, telah mengubah HTS menjadi organisasi dengan pendekatan jihad yang lebih pragmatis dibandingkan ideologi ekstrem kelompok sebelumnya.
sum. cnnindonesia















