Home / Fintech

Jumat, 11 September 2026 - 08:00 WIB

Tinggalkan Anthropic, Peneliti AI Ini Bongkar Ketakutan: “Teknologi Ini Bisa Lepas Kendali dan Mengancam Manusia”

Bidik24.com – JAKARTA – Persaingan membangun kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kembali memunculkan kekhawatiran serius. Seorang peneliti muda yang pernah bekerja di dua perusahaan AI terbesar dunia, OpenAI dan Anthropic, memilih mengundurkan diri setelah menilai perlombaan menciptakan kecerdasan super berpotensi membawa teknologi ke arah yang sulit dikendalikan manusia.

Peneliti tersebut, Jacob Coxon (27), mengumumkan pengunduran dirinya dari Anthropic melalui akun media sosial X pada Rabu (9/9/2026).

Coxon mengaku telah menghabiskan sekitar tiga tahun terakhir meneliti teknologi pelatihan awal atau pretraining model AI. Kariernya dimulai di OpenAI sebelum kemudian bergabung dengan Anthropic.

Namun kini, ia memilih meninggalkan Anthropic sekaligus industri kecerdasan buatan secara keseluruhan.

“Saya mengundurkan diri dari Anthropic hari ini. Kedua perusahaan tidak bertindak secara bertanggung jawab. Mereka berlari menuju kecerdasan super yang bisa memperbaiki dirinya sendiri dan mempertaruhkan nyawa kita,” tulis Coxon.

Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian karena datang dari seseorang yang terlibat langsung dalam pengembangan teknologi AI modern.

Pretraining merupakan salah satu tahapan awal dalam pengembangan kecerdasan buatan. Pada proses ini, model AI dilatih menggunakan data dalam jumlah sangat besar agar mampu mengenali pola, memahami bahasa, dan menjalankan berbagai tugas.

Namun yang menjadi perhatian Coxon adalah arah perkembangan AI menuju sistem yang memiliki kemampuan meningkatkan atau memperbaiki dirinya sendiri dengan campur tangan manusia yang semakin kecil.

Baca Juga  ESDM: Sumatera adalah Kunci untuk 34% Potensi Energi Bersih Indonesia!

Menurutnya, kemampuan tersebut memang belum sepenuhnya tercapai. Meski demikian, sejumlah perusahaan teknologi kini terus berlomba mengembangkan AI dengan kemampuan yang semakin tinggi.

Coxon bahkan memperingatkan bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, teknologi tersebut berpotensi melampaui kemampuan manusia dalam berbagai bidang.

Ia menyebut AI masa depan bisa memiliki kemampuan meretas sistem, mengubah berbagai sektor dengan sangat cepat, hingga mengumpulkan kekuasaan dan sumber daya dalam skala besar.

“Jangan meremehkan kekuatan teknologi ini. Kita semua sudah menyaksikan kemajuan di berbagai bidang dan kemajuannya tidak melambat,” tulisnya.

Coxon menegaskan bahwa peringatannya bukan sekadar upaya mencari perhatian atau membangun sensasi.

Menurutnya, kekhawatiran mengenai risiko kecerdasan buatan sebenarnya juga dirasakan oleh sejumlah orang yang bekerja langsung dalam pengembangan teknologi tersebut.

“Orang-orang yang membangun AI sangat percaya teknologi ini bisa membunuh kita semua pada akhir dekade ini. Ini bukan gimmick pemasaran,” ungkap Coxon.

Ia bahkan mengklaim bahwa sejumlah pimpinan dan peneliti senior di industri AI cenderung menyampaikan kekhawatiran dengan bahasa yang lebih hati-hati ketika berbicara kepada publik.

Padahal, menurutnya, secara pribadi sebagian dari mereka memiliki ketakutan serius terhadap kemungkinan teknologi tersebut berkembang di luar kendali manusia.

Media internasional Wall Street Journal mencatat pengunduran diri Coxon sebagai salah satu contoh awal karyawan Anthropic yang memilih keluar karena kekhawatiran terhadap keamanan pengembangan kecerdasan buatan.

Baca Juga  Gen Z Mulai Tinggalkan Chat Instan, Pilih Pesan Lewat Merpati Virtual

Coxon menegaskan bahwa keputusannya bukan hanya meninggalkan Anthropic, tetapi juga menjauh dari industri AI secara keseluruhan.

Kepada media tersebut, ia bahkan memperkirakan situasi perkembangan AI dapat menjadi semakin sulit dikendalikan dalam waktu dekat.

Dalam unggahannya, Coxon juga menjawab pertanyaan yang menurutnya paling sering diajukan kepada orang-orang yang memahami risiko AI.

Menurut Coxon, jawaban atas pertanyaan tersebut berbeda di masing-masing perusahaan.

Ia menilai sebagian orang di OpenAI belum sepenuhnya menyadari besarnya risiko yang dipertaruhkan bagi masa depan peradaban manusia.

Sementara di Anthropic, menurutnya, risiko tersebut justru lebih dipahami. Namun persoalannya, perusahaan-perusahaan AI merasa tidak bisa berhenti karena terjebak dalam persaingan untuk menjadi yang pertama mencapai kecerdasan super.

Pengunduran diri Coxon kembali membuka perdebatan besar tentang masa depan kecerdasan buatan.

Di satu sisi, AI menjanjikan kemajuan luar biasa di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, penelitian, dan teknologi. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah manusia benar-benar siap menghadapi teknologi yang suatu hari nanti mungkin lebih cerdas daripada manusia itu sendiri?

Persaingan AI kini bukan lagi sekadar soal siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga tentang siapa yang mampu memastikan kecerdasan buatan tetap berada di bawah kendali manusia.

Share :

Baca Juga

Fintech

Gen Z Mulai Tinggalkan Chat Instan, Pilih Pesan Lewat Merpati Virtual

Energi

How to Give Your 2016 Resolutions Staying Power

Ekonomi

How One Furniture Manufacturer Goes ‘Beyond Sustainability’

Fintech

Surety Bonds Protect Infrastructure Investment

Fintech

How to Stay Hydrated Like a Pro All Summer