Ifwandi, S.Pd., M.Pd
Sekretaris Umum KONI Aceh Besar
Koordinator PJKR FKIP USK
Ketua Pengkab Perbasi Aceh Besar
Aceh dikenal dengan sejarah, budaya, dan semangat juangnya yang kuat. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian publik olahraga. Kita sering bangga ketika ada atlet Aceh yang berdiri di podium nasional, mengibarkan bendera daerah, bahkan mengharumkan nama bangsa. Tetapi, di balik momen itu, ada cerita getir yang jarang diceritakan—tentang perjuangan panjang, minimnya fasilitas, hingga kurangnya perhatian serius dari berbagai pihak.
Hari ini, olahraga Aceh berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kita memiliki potensi besar: sumber daya manusia yang tangguh, antusiasme masyarakat, dan identitas budaya yang bisa menjadi energi kolektif. Di sisi lain, kita berhadapan dengan kenyataan pahit: infrastruktur yang terbengkalai, dana pembinaan yang sporadis, serta kompetisi yang berjalan seperti formalitas semata.
Lebih ironis lagi, pembinaan atlet usia dini belum berjalan terstruktur. Padahal, semua prestasi gemilang lahir dari fondasi pembinaan yang kuat sejak dini. Kita kerap mengharapkan lahirnya bintang, tetapi lupa menyiapkan langitnya. Kita sibuk pada euforia event besar, namun melupakan kerja sepi di balik layar: melatih, mendidik, dan mendampingi atlet dengan konsisten.
Pertanyaan kritis pun muncul: apakah olahraga di Aceh benar-benar kita letakkan sebagai investasi masa depan, atau sekadar menjadi proyek jangka pendek untuk kepentingan sesaat?
Sebagai insan olahraga, saya percaya bahwa jawaban ada pada keberanian kita untuk berubah. Regulasi sudah ada, bahkan Aceh memiliki Qanun Keolahragaan. Namun, aturan tanpa implementasi hanyalah lembaran kertas yang berdebu. Kita butuh keberpihakan nyata: anggaran yang jelas, kompetisi yang rutin, serta manajemen olahraga yang profesional, bebas dari tarik-menarik kepentingan politik.
Olahraga Aceh bisa maju jika kita menjadikannya bagian dari ekosistem besar: pendidikan, kesehatan, industri kreatif, hingga pariwisata. Bayangkan jika setiap event olahraga tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat citra Aceh di mata dunia.
Kini, saatnya kita memilih. Apakah olahraga Aceh akan terus berjalan dengan pola lama—sepotong-sepotong, seremonial, dan penuh retorika—atau berani menata ulang arah dengan strategi yang berkesinambungan?
Saya yakin, olahraga Aceh punya masa depan cerah. Namun, masa depan itu hanya akan tiba jika kita menjemputnya dengan kerja nyata, bukan sekadar harapan.















