Home / Opini

Selasa, 17 Maret 2026 - 06:11 WIB

Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadhan Bisa Lebih Sehat dari Program Diet Modern

Bidik24.com – Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sering dipahami hanya sebagai momentum peningkatan ibadah spiritual. Umat Muslim berlomba-lomba memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan melakukan i’tikaf di masjid. Namun, jika ditinjau lebih jauh, periode ini sebenarnya tidak hanya membawa dimensi spiritual, tetapi juga menyimpan potensi besar bagi optimalisasi kesehatan manusia secara holistik—meliputi aspek fisik, mental, dan sosial.

Menurut saya, sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan momentum yang unik di mana praktik keagamaan secara tidak langsung membentuk pola hidup sehat. Puasa, aktivitas ibadah yang intens, serta perubahan ritme kehidupan sehari-hari menciptakan sebuah sistem keseimbangan yang sangat menarik jika dilihat dari perspektif ilmiah. Tradisi religius yang telah berlangsung selama berabad-abad ini ternyata memiliki korelasi kuat dengan berbagai prinsip kesehatan modern.

Dari sisi fisiologis, puasa Ramadhan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk melakukan penyesuaian metabolisme. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan selama 12–14 jam, sistem metabolisme akan beralih menggunakan cadangan energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen dan lemak. Mekanisme ini tidak hanya membantu menyeimbangkan penggunaan energi, tetapi juga berpotensi memperbaiki profil metabolik tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat berkontribusi pada penurunan kadar kolesterol, perbaikan profil lipid darah, serta peningkatan sensitivitas insulin. Dengan kata lain, praktik puasa sebenarnya dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan penyakit metabolik jika dilakukan dengan pola makan yang seimbang saat sahur dan berbuka.

Selain itu, puasa juga memicu proses biologis penting yang dikenal sebagai autophagy, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel yang lebih sehat. Dalam perspektif ilmu biologi sel, proses ini sangat penting untuk menjaga kesehatan jaringan tubuh dan mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker, maupun gangguan saraf. Dengan demikian, puasa bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme alami tubuh untuk melakukan regenerasi sel.

Baca Juga  Jakarta Electric PLN Siap Guncang Proliga 2025, Target Juara dengan Kombinasi Pemain Lokal dan Internasional!

Menariknya, aktivitas ibadah yang meningkat pada sepuluh hari terakhir Ramadhan juga memiliki nilai kebugaran fisik. Gerakan shalat yang meliputi berdiri, rukuk, sujud, dan duduk sebenarnya melibatkan berbagai kelompok otot dan sendi dalam tubuh. Jika dilakukan secara rutin, gerakan ini dapat berfungsi sebagai latihan peregangan ringan yang membantu menjaga fleksibilitas tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa gerakan shalat memiliki manfaat yang hampir serupa dengan latihan stretching dalam ilmu olahraga.

Sebagai contoh, gerakan sujud dapat meningkatkan aliran darah menuju otak sehingga memberikan efek relaksasi pada sistem saraf dan membantu meningkatkan fungsi kognitif. Sementara itu, gerakan rukuk membantu meregangkan otot punggung serta menjaga keseimbangan struktur tulang belakang. Dalam konteks kehidupan modern yang cenderung sedentari—banyak duduk dan minim aktivitas fisik—gerakan shalat dapat menjadi bentuk aktivitas tubuh yang sangat bermanfaat.

Di sisi lain, aktivitas olahraga tetap dapat dilakukan selama bulan Ramadhan dengan intensitas yang tepat. Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa olahraga saat berpuasa dapat menyebabkan kelelahan atau membahayakan tubuh. Padahal, berbagai penelitian dalam ilmu olahraga menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan hingga sedang tetap aman dilakukan selama puasa, asalkan waktunya tepat dan intensitasnya terkontrol.

Menurut saya, olahraga ringan seperti berjalan santai, jogging ringan, bersepeda, atau stretching justru dapat membantu menjaga kebugaran tubuh selama Ramadhan. Waktu yang paling ideal untuk melakukannya adalah menjelang berbuka puasa atau setelah shalat tarawih. Pada waktu tersebut, tubuh dapat segera menggantikan cairan dan energi yang hilang setelah aktivitas fisik. Selain itu, olahraga ringan juga membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi, mempertahankan massa otot, serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Baca Juga  Banjir Besar Lumpuhkan Trans Sulawesi, Rumah Hanyut dan Warga Hilang

Tidak kalah penting, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga melatih kedisiplinan dalam mengatur pola hidup. Perubahan jadwal makan yang hanya dilakukan pada waktu sahur dan berbuka mendorong seseorang untuk lebih bijak dalam memilih makanan. Jika dimanfaatkan dengan baik, kondisi ini dapat membantu membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan mengurangi makanan berlemak berlebihan.

Selain kesehatan fisik, aspek kesehatan mental juga mendapatkan manfaat besar selama periode ini. Aktivitas spiritual seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, serta melakukan i’tikaf dapat memberikan ketenangan psikologis yang mendalam. Dalam perspektif psikologi kesehatan, praktik spiritual terbukti berkontribusi dalam menurunkan tingkat stres, meningkatkan kesejahteraan emosional, serta memberikan rasa makna dalam kehidupan.

Dengan demikian, sepuluh hari terakhir Ramadhan sebenarnya dapat dipandang sebagai sebuah sistem kehidupan yang terintegrasi antara spiritualitas dan kesehatan. Puasa membantu memperbaiki metabolisme tubuh, ibadah memberikan aktivitas fisik ringan yang menyehatkan, sementara olahraga yang terencana dapat menjaga kebugaran tubuh secara optimal. Jika ketiga aspek ini dijalankan secara seimbang, seseorang tidak hanya memperoleh pahala ibadah, tetapi juga manfaat kesehatan yang menyeluruh.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia merupakan kesempatan bagi manusia untuk membangun kembali keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Oleh karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadhan seharusnya dimanfaatkan bukan hanya untuk meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga sebagai momentum membangun gaya hidup sehat yang berkelanjutan setelah Ramadhan berakhir.

Ditulis oleh:
Dr. Zikrur Rahmat, M.Pd
Sekretaris Umum IGORNAS Aceh
Dosen PJKR Universitas Bina Bangsa Getsempena

Share :

Baca Juga

Opini

Kamu Terlalu Sibuk Dengan Doamu 5 Tahun ke Depan, Padahal Saat Ini Adalah Doamu 5 Tahun Lalu yang Kau Langitkan

Opini

Puasa Bukan Alasan Tubuh Lelah Massage Bisa Menjadi Jawabannya

Opini

Negeriku Dilanda Bencana

Opini

Om Khai Kecam Bupati Aceh Selatan ke Luar Negeri di Masa Bencana

Opini

Teachers Are No Longer the Primary Source of Knowledge: So What Is Their Role in the AI Era?

Opini

Guru dan AI, Guru Bukan Lagi Sumber Utama. Lalu Apa Fungsi Esensial Mereka Sekarang?

Opini

Peran Guru dalam Proses Pembelajaran di Era Digital

Opini

Guru di Era Digital Cahaya di Tengah Layar