Banda Aceh – Awal Mei selalu menyuguhkan pemandangan yang kontras di tanah air. Dalam rentang waktu 48 jam, Indonesia memperingati dua momen besar: Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei). Namun, atmosfer yang tertangkap di ruang publik bagaikan bumi dan langit.
May Day telah bertransformasi dari sekadar peringatan menjadi panggung kekuatan rakyat. Ribuan buruh tumpah ruah ke jalan, menciptakan tekanan politik yang nyata bagi pemerintah.
Isu upah minimum, jaminan sosial, dan penghapusan sistem kerja kontrak (outsourcing) adalah narasi yang sangat “membumi”. Publik dengan cepat bereaksi karena ini menyangkut kelangsungan hidup harian.
Serikat buruh memiliki mesin organisasi yang paling efektif di dunia untuk memobilisasi massa secara masif dan seragam.
Sedangkan Hardiknas Terjebak dalam Ritual Formalitas. Hanya berselang sehari, suasana mendadak senyap. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seringkali berakhir sebagai rutinitas administratif di balik pagar sekolah dan kantor kedinasan.
Perayaan Hardiknas masih didominasi oleh upacara bendera dan baju adat. Esensi untuk mengkritisi rapor merah literasi nasional atau kesejahteraan guru honorer sering kali tertutup oleh meriahnya seremoni.
Guru dan mahasiswa sebagai aktor utama pendidikan cenderung bergerak di ruang-ruang diskusi tertutup yang jarang terpotret sebagai kekuatan penekan di mata publik luas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa publik kita masih bersikap reaktif terhadap isu ekonomi jangka pendek, namun apatis terhadap fondasi masa depan.
Kenaikan upah buruh memang krusial, namun tanpa kualitas pendidikan yang diperjuangkan dengan gairah yang sama, tenaga kerja Indonesia hanya akan terjebak dalam jebakan kelas menengah bawah. Kita butuh euforia 1 Mei untuk menyuarakan ketimpangan kualitas sekolah pada 2 Mei.
Jangan sampai kita lantang meneriakkan angka gaji, tapi bisu saat melihat rendahnya literasi.















