Home / Berita / Ekonomi / Opini / Pendidikan

Senin, 4 Mei 2026 - 11:48 WIB

Dua Hari, Dua Dunia: Mengapa May Day Begitu Riuh dan Hardiknas Begitu Sunyi?

Banda Aceh – Awal Mei selalu menyuguhkan pemandangan yang kontras di tanah air. Dalam rentang waktu 48 jam, Indonesia memperingati dua momen besar: Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei). Namun, atmosfer yang tertangkap di ruang publik bagaikan bumi dan langit.

May Day telah bertransformasi dari sekadar peringatan menjadi panggung kekuatan rakyat. Ribuan buruh tumpah ruah ke jalan, menciptakan tekanan politik yang nyata bagi pemerintah.

Isu upah minimum, jaminan sosial, dan penghapusan sistem kerja kontrak (outsourcing) adalah narasi yang sangat “membumi”. Publik dengan cepat bereaksi karena ini menyangkut kelangsungan hidup harian.

Baca Juga  Mualem Ungkapkan: Arab Saudi Tertarik Berinvestasi, Aceh Siap Meloncat ke Era Baru!

Serikat buruh memiliki mesin organisasi yang paling efektif di dunia untuk memobilisasi massa secara masif dan seragam.

Sedangkan Hardiknas Terjebak dalam Ritual Formalitas. Hanya berselang sehari, suasana mendadak senyap. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seringkali berakhir sebagai rutinitas administratif di balik pagar sekolah dan kantor kedinasan.

Perayaan Hardiknas masih didominasi oleh upacara bendera dan baju adat. Esensi untuk mengkritisi rapor merah literasi nasional atau kesejahteraan guru honorer sering kali tertutup oleh meriahnya seremoni.

Guru dan mahasiswa sebagai aktor utama pendidikan cenderung bergerak di ruang-ruang diskusi tertutup yang jarang terpotret sebagai kekuatan penekan di mata publik luas.

Baca Juga  Kesadaran Masyarakat Aceh Diuji di Tengah Fenomena Seksual Menyimpang

Fenomena ini menunjukkan bahwa publik kita masih bersikap reaktif terhadap isu ekonomi jangka pendek, namun apatis terhadap fondasi masa depan.

Kenaikan upah buruh memang krusial, namun tanpa kualitas pendidikan yang diperjuangkan dengan gairah yang sama, tenaga kerja Indonesia hanya akan terjebak dalam jebakan kelas menengah bawah. Kita butuh euforia 1 Mei untuk menyuarakan ketimpangan kualitas sekolah pada 2 Mei.

Jangan sampai kita lantang meneriakkan angka gaji, tapi bisu saat melihat rendahnya literasi.

 

Share :

Baca Juga

Pendidikan

SMAN 7 Banda Aceh Gelar LDKS, Cetak Pemimpin Muda Berintegritas, Kolaboratif, dan Strategis

Ekonomi

USK Perkuat Hilirisasi MaKaFeed melalui Pelatihan Usaha Maggot di Kuta Ateuh

Ekonomi

USK Kembangkan Ekonomi Sirkular melalui Maggot dan MaKaFeed di Sabang

Pendidikan

MIN 20 Aceh Besar Raih Juara Umum PORSENI VIII K2MI Aceh Besar

Ekonomi

14 Bank Tutup Sepanjang 2026, Terbaru BPR Pasarraya Kuta di Bali Dicabut Izinnya

Ekonomi

Usai Dicopot Jadi Menkeu, Putra Purbaya: Bapak Bisa Tidur Nyenyak Lagi dan Balik Jadi Trader

Ekonomi

Konflik Timur Tengah Memanas, Pertamina Sebut Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu per Liter

Pendidikan

Pengurus OSIM MIN 20 Aceh Besar Periode 2026–2027 Resmi Dikukuhkan