Home / Berita / Ekonomi / Opini / Pendidikan

Senin, 4 Mei 2026 - 11:48 WIB

Dua Hari, Dua Dunia: Mengapa May Day Begitu Riuh dan Hardiknas Begitu Sunyi?

Banda Aceh – Awal Mei selalu menyuguhkan pemandangan yang kontras di tanah air. Dalam rentang waktu 48 jam, Indonesia memperingati dua momen besar: Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei). Namun, atmosfer yang tertangkap di ruang publik bagaikan bumi dan langit.

May Day telah bertransformasi dari sekadar peringatan menjadi panggung kekuatan rakyat. Ribuan buruh tumpah ruah ke jalan, menciptakan tekanan politik yang nyata bagi pemerintah.

Isu upah minimum, jaminan sosial, dan penghapusan sistem kerja kontrak (outsourcing) adalah narasi yang sangat “membumi”. Publik dengan cepat bereaksi karena ini menyangkut kelangsungan hidup harian.

Baca Juga  Meski Defisit Rp401 Triliun, Presiden Prabowo Klaim APBN 2024 Dikelola dengan Bijak di Tengah Krisis Global!

Serikat buruh memiliki mesin organisasi yang paling efektif di dunia untuk memobilisasi massa secara masif dan seragam.

Sedangkan Hardiknas Terjebak dalam Ritual Formalitas. Hanya berselang sehari, suasana mendadak senyap. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seringkali berakhir sebagai rutinitas administratif di balik pagar sekolah dan kantor kedinasan.

Perayaan Hardiknas masih didominasi oleh upacara bendera dan baju adat. Esensi untuk mengkritisi rapor merah literasi nasional atau kesejahteraan guru honorer sering kali tertutup oleh meriahnya seremoni.

Guru dan mahasiswa sebagai aktor utama pendidikan cenderung bergerak di ruang-ruang diskusi tertutup yang jarang terpotret sebagai kekuatan penekan di mata publik luas.

Baca Juga  Pajak Kendaraan Bermotor Baru Berlaku Mulai 5 Januari 2025

Fenomena ini menunjukkan bahwa publik kita masih bersikap reaktif terhadap isu ekonomi jangka pendek, namun apatis terhadap fondasi masa depan.

Kenaikan upah buruh memang krusial, namun tanpa kualitas pendidikan yang diperjuangkan dengan gairah yang sama, tenaga kerja Indonesia hanya akan terjebak dalam jebakan kelas menengah bawah. Kita butuh euforia 1 Mei untuk menyuarakan ketimpangan kualitas sekolah pada 2 Mei.

Jangan sampai kita lantang meneriakkan angka gaji, tapi bisu saat melihat rendahnya literasi.

 

Share :

Baca Juga

Opini

Kamu Terlalu Sibuk Dengan Doamu 5 Tahun ke Depan, Padahal Saat Ini Adalah Doamu 5 Tahun Lalu yang Kau Langitkan

Opini

Puasa Bukan Alasan Tubuh Lelah Massage Bisa Menjadi Jawabannya

Opini

Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadhan Bisa Lebih Sehat dari Program Diet Modern

Pendidikan

IGORNAS Aceh Bagikan Informasi Beasiswa Negara Islam 2026 untuk Mahasiswa

Ekonomi

Lolos Uji Kelayakan DPR, Friderica Widyasari Dewi Pimpin OJK

Ekonomi

AS Kembali Gunakan Kayu Bakar Setelah Penutupan Selat Hormuz

Pendidikan

warek III Lantik Sejumlah UKM Baru di Universitas Syiah Kuala

Pendidikan

Pernyataan ‘Cukup Saya WNI’ Picu Badai, Mendikti Tegaskan Integritas Harga Mati