Home / Ekonomi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 09:31 WIB

USK Kembangkan Ekonomi Sirkular melalui Maggot dan MaKaFeed di Sabang

Bidik24.com – Sabang, 18 Oktober 2026 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong pengembangan potensi peternakan dan ekonomi lokal melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan budidaya maggot serta pembuatan pakan ternak inovatif MaKaFeed di Gampong Kuta Ateuh, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, pada Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 15 peternak dan 6 aparatur gampong sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan, kemandirian ekonomi masyarakat, dan pengembangan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh drh. Lailia Dwi Kusuma Wardhani, M.Si., selaku ketua tim pengabdian USK, dan dilaksanakan melalui kolaborasi bersama Pemerintah Gampong Kuta Ateuh yang dipimpin oleh Keuchik Zulfan Bahri, S.E. Program ini memperoleh dukungan penuh melalui pendanaan Hibah Kompetitif Universitas Syiah Kuala Tahun 2026. Kegiatan ini juga dibantu oleh mahasiswa KKN tematik 2026

Salah satu fokus utama kegiatan adalah pengenalan dan pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang berpotensi menjadi alternatif sumber protein untuk pakan ternak. Budidaya maggot ini diharapkan menjadi salah satu pelopor pengembangan budidaya maggot di Kota Sabang sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi sumber daya yang bernilai guna dan ekonomis.

Melalui pelatihan tersebut, para peternak diperkenalkan pada teknik dasar budidaya maggot serta pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan ternak. Selanjutnya, peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan MaKaFeed, yaitu inovasi pakan ternak berbahan dasar maggot dan daun kari (Murraya koenigii). Inovasi ini dikembangkan sebagai alternatif untuk membantu mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan komersial, yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya utama dalam usaha peternakan.

Ketua tim pengabdian, drh. Lailia Dwi Kusuma Wardhani, M.Si., menyampaikan bahwa pengembangan MaKaFeed tidak hanya berorientasi pada inovasi pakan, tetapi juga diarahkan untuk membangun sistem usaha peternakan yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

“Melalui budidaya maggot dan produksi MaKaFeed, kami berharap masyarakat dapat mengembangkan sumber pakan alternatif secara mandiri, meningkatkan efisiensi usaha peternakan, serta memanfaatkan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Ke depannya, MaKaFeed diharapkan dapat berkembang menjadi produk unggulan Gampong Kuta Ateuh yang dikelola secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara USK, pemerintah gampong, dan kelompok peternak,” demikian harapan yang ingin diwujudkan melalui program ini.

Keuchik Gampong Kuta Ateuh, Zulfan Bahri, S.E., turut mendukung pengembangan program tersebut sebagai salah satu upaya meningkatkan potensi ekonomi gampong. Kolaborasi antara tim pengabdian USK, pemerintah gampong, dan kelompok peternak diharapkan mampu menjadi fondasi bagi pengelolaan budidaya maggot dan produksi MaKaFeed yang lebih terorganisasi, produktif, dan berorientasi pada kebutuhan pasar.

Dalam jangka panjang, MaKaFeed ditargetkan tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak masyarakat, tetapi juga dikembangkan menjadi produk unggulan gampong yang memiliki peluang pemasaran lebih luas. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan peternak dan masyarakat, serta berkontribusi terhadap penguatan pendapatan ekonomi gampong.

Program ini juga sejalan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku budidaya maggot menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pengurangan limbah, sedangkan pengembangan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal berpotensi memperkuat keberlanjutan sistem peternakan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Syiah Kuala berharap terbangun model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan inovasi teknologi, pengelolaan lingkungan, peningkatan produktivitas peternakan, dan penguatan ekonomi lokal. Keberlanjutan budidaya maggot serta pengembangan MaKaFeed di Gampong Kuta Ateuh diharapkan menjadi langkah nyata menuju ketahanan pangan yang lebih mandiri sekaligus menciptakan ekonomi sirkular yang memberikan manfaat bagi peternak, masyarakat, dan gampong secara berkelanjutan.(Red)

Share :

Baca Juga

Ekonomi

USK Perkuat Hilirisasi MaKaFeed melalui Pelatihan Usaha Maggot di Kuta Ateuh

Ekonomi

14 Bank Tutup Sepanjang 2026, Terbaru BPR Pasarraya Kuta di Bali Dicabut Izinnya

Ekonomi

Usai Dicopot Jadi Menkeu, Putra Purbaya: Bapak Bisa Tidur Nyenyak Lagi dan Balik Jadi Trader

Ekonomi

Konflik Timur Tengah Memanas, Pertamina Sebut Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu per Liter

Ekonomi

Bill Gates Peringatkan Jutaan Pekerjaan Terancam AI: Dunia Belum Siap Hadapi Disrupsi

Berita

Dua Hari, Dua Dunia: Mengapa May Day Begitu Riuh dan Hardiknas Begitu Sunyi?

Ekonomi

Lolos Uji Kelayakan DPR, Friderica Widyasari Dewi Pimpin OJK

Ekonomi

AS Kembali Gunakan Kayu Bakar Setelah Penutupan Selat Hormuz