Home / Ekonomi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:36 WIB

USK Perkuat Hilirisasi MaKaFeed melalui Pelatihan Usaha Maggot di Kuta Ateuh

Bidik24.com – Sabang, 23 Oktober 2026 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) terus mendorong pengembangan MaKaFeed sebagai produk unggulan Gampong Kuta Ateuh, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan analisis usaha budidaya maggot dan produksi MaKaFeed yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (23/10/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Said Mirza Pratama, S.Pt., M.Si., sebagai pemateri. Peserta terdiri atas kelompok peternak yang mengelola budidaya maggot dan produksi MaKaFeed serta aparatur Gampong Kuta Ateuh. Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah dosen Universitas Syiah Kuala dan mahasiswa KKN Tematik USK Tahun 2026 yang turut mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diketuai oleh drh. Lailia Dwi Kusuma Wardhani, M.Si., dengan dukungan pendanaan Hibah Kompetitif Universitas Syiah Kuala Tahun 2026. Program ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan budidaya maggot dan produksi MaKaFeed, baik dari aspek teknis maupun kelayakan usaha, manajemen produksi, dan strategi pemasaran.

Dalam pelatihan tersebut, pemateri menyampaikan materi analisis usaha yang mencakup identifikasi biaya produksi, perhitungan kebutuhan modal dan biaya operasional, penentuan harga jual, perhitungan potensi keuntungan, hingga analisis titik impas atau break-even point (BEP). Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya perencanaan usaha dan strategi pemasaran untuk mendukung pengembangan produk yang kompetitif dan berkelanjutan.

Materi ini penting karena keberhasilan budidaya maggot dan produksi MaKaFeed tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga oleh ketepatan dalam mengelola biaya, menjaga ketersediaan bahan baku, menentukan harga jual yang sesuai, serta mengidentifikasi peluang pasar.

Melalui pelatihan ini, kelompok peternak diharapkan mampu menghitung biaya produksi secara lebih akurat, menentukan harga jual berdasarkan perhitungan yang rasional, memperkirakan keuntungan, dan mengetahui tingkat produksi minimum yang diperlukan untuk mencapai titik impas. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting dalam mengambil keputusan usaha secara lebih terukur dan bertanggung jawab.

Pelatihan analisis usaha ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk mendorong transformasi MaKaFeed dari inovasi pakan alternatif menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan prospek komersial. Dengan perencanaan bisnis yang baik, budidaya maggot dan produksi MaKaFeed diharapkan berkembang menjadi usaha produktif yang dikelola secara terorganisasi, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pasar.

Dukungan terhadap keberlanjutan program disampaikan oleh Sekretaris Gampong Kuta Ateuh, Indra Hariyono, yang menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan budidaya maggot dan produksi MaKaFeed. Dukungan pemerintah gampong diharapkan dapat memperkuat koordinasi, pemberdayaan kelompok peternak, pemanfaatan potensi lokal, serta pengembangan MaKaFeed sebagai produk unggulan gampong.

Baca Juga  KAI Siapkan 62 Kereta Baru dan Fasilitas Meriah untuk Sambut Nataru 2024/2025!

Komitmen tersebut menjadi modal penting dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah gampong, kelompok peternak, dan unsur masyarakat lainnya. Sinergi ini diharapkan memperkuat pengelolaan program, mulai dari penyediaan bahan baku, budidaya maggot, proses produksi, perencanaan usaha, hingga pengembangan pemasaran dan hilirisasi produk.

Komitmen keberlanjutan juga datang dari kelompok peternak yang terlibat langsung dalam pengelolaan budidaya maggot dan produksi MaKaFeed. Mereka menyatakan kesiapan untuk melanjutkan kegiatan tersebut dengan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh melalui rangkaian pelatihan dan pendampingan tim pengabdian USK.

Kesiapan kelompok peternak menjadi aspek penting untuk memastikan program tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi berkembang menjadi aktivitas produktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Keberlanjutan kegiatan diharapkan didukung oleh pengelolaan produksi yang konsisten, pemanfaatan sumber daya lokal, pencatatan usaha yang baik, serta koordinasi berkelanjutan dengan pemerintah gampong dan tim pengabdian USK.

Dengan adanya komitmen dari pemerintah gampong dan kelompok peternak, MaKaFeed diharapkan memiliki fondasi yang semakin kuat untuk tumbuh menjadi usaha berbasis potensi lokal. Penguatan kapasitas pengelola, keberlanjutan produksi, perhitungan keuntungan, dan perluasan pemasaran menjadi bagian penting dalam mewujudkan MaKaFeed sebagai produk unggulan yang berdaya saing.

Pengembangan MaKaFeed mengusung konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah organik sebagai sumber daya untuk budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan dan diolah bersama bahan lokal berupa daun kari (Murraya koenigii) menjadi MaKaFeed, yaitu inovasi pakan alternatif yang dikembangkan melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan nilai guna sumber daya yang sebelumnya kurang dimanfaatkan, mendukung pengelolaan limbah organik, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Di sektor peternakan, pengembangan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal juga berpotensi membantu peternak mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, dengan tetap memperhatikan kualitas, keamanan, dan kesesuaian nutrisi pakan bagi ternak.

Dalam jangka panjang, MaKaFeed diharapkan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak setempat, tetapi juga dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual dan peluang pemasaran lebih luas. Dengan pengelolaan usaha yang baik, inovasi ini berpotensi memberikan nilai tambah bagi kelompok peternak, membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat, dan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi Gampong Kuta Ateuh.

Baca Juga  Makan Siang Gratis Dimulai 6 Januari 2025, Pemerintah Libatkan Koperasi dan BUMDes

Program pengembangan budidaya maggot dan MaKaFeed juga sejalan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi tersebut meliputi SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui pengembangan peluang usaha dan potensi peningkatan pendapatan masyarakat; SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui dukungan terhadap ketahanan pangan dan pengembangan usaha peternakan; serta SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya mendukung pengelolaan pakan dan peternakan yang lebih baik.

Selain itu, program ini mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan kelompok peternak dan pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal. Pemanfaatan limbah organik dalam budidaya maggot juga relevan dengan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Sementara itu, pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien berpotensi mendukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan limbah yang tidak termanfaatkan dan pengembangan praktik produksi yang lebih berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, program pengabdian USK tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola potensi lokal menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Ketua tim pengabdian, drh. Lailia Dwi Kusuma Wardhani, M.Si., melalui program ini mendorong agar pengembangan MaKaFeed tidak berhenti pada tahap pengenalan teknologi dan pelatihan produksi. Penguatan kemampuan analisis usaha, dukungan pemerintah gampong, dan kesiapan kelompok peternak untuk melanjutkan kegiatan merupakan bagian penting dalam mempersiapkan MaKaFeed menuju tahap hilirisasi dan komersialisasi.

Melalui pelatihan ini, tim pengabdian USK berharap kelompok peternak dapat menerapkan perhitungan usaha secara lebih sistematis, mengelola produksi secara berkelanjutan, dan mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai dengan potensi serta kebutuhan pasar. Dukungan pemerintah gampong dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat diharapkan semakin memperkuat keberlanjutan program.

Kolaborasi antara Universitas Syiah Kuala, Pemerintah Gampong Kuta Ateuh, dan kelompok peternak menjadi fondasi penting dalam mewujudkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Dengan komitmen bersama dan pengelolaan usaha yang terencana, MaKaFeed diharapkan dapat berkembang menjadi produk unggulan gampong yang mendukung kemandirian pakan, ketahanan pangan, peningkatan pendapatan masyarakat, serta terwujudnya ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Kota Sabang. (Red)

Share :

Baca Juga

Ekonomi

USK Kembangkan Ekonomi Sirkular melalui Maggot dan MaKaFeed di Sabang

Ekonomi

14 Bank Tutup Sepanjang 2026, Terbaru BPR Pasarraya Kuta di Bali Dicabut Izinnya

Ekonomi

Usai Dicopot Jadi Menkeu, Putra Purbaya: Bapak Bisa Tidur Nyenyak Lagi dan Balik Jadi Trader

Ekonomi

Konflik Timur Tengah Memanas, Pertamina Sebut Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu per Liter

Ekonomi

Bill Gates Peringatkan Jutaan Pekerjaan Terancam AI: Dunia Belum Siap Hadapi Disrupsi

Berita

Dua Hari, Dua Dunia: Mengapa May Day Begitu Riuh dan Hardiknas Begitu Sunyi?

Ekonomi

Lolos Uji Kelayakan DPR, Friderica Widyasari Dewi Pimpin OJK

Ekonomi

AS Kembali Gunakan Kayu Bakar Setelah Penutupan Selat Hormuz