Bidik24.com – JAKARTA – Konflik geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, mulai memberikan tekanan serius terhadap stabilitas harga energi dunia. Ketegangan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah global dan berpotensi berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan situasi geopolitik saat ini dinilai lebih kompleks dibandingkan konflik Rusia dan Ukraina yang sebelumnya juga sempat mengguncang pasar energi dunia.
Menurutnya, harga minyak mentah dunia hingga kini belum menunjukkan kecenderungan untuk kembali turun secara signifikan seperti sebelum terjadinya krisis geopolitik.
“Kalau berharap harga minyak dunia kembali ke kisaran US$70 atau bahkan US$60 per barel seperti sebelum krisis geopolitik, tentu kita berharap dan berdoa semoga kondisi tersebut bisa segera terjadi,” ujar Eko dalam kegiatan Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).
Eko menjelaskan, apabila harga minyak dunia terus bertahan di level tinggi tanpa adanya tanda-tanda penurunan, maka harga BBM nonsubsidi di Indonesia juga berpotensi mengalami penyesuaian.
Salah satu produk yang berpotensi terdampak adalah Pertamax. Bahkan, harga BBM jenis nonsubsidi tersebut diperkirakan dapat berada pada kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter apabila tekanan harga minyak dunia terus berlanjut.
“Jika kondisi seperti sekarang terus berlangsung dan belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia, harga Pertamax dan produk lainnya bisa berada di kisaran Rp18 ribu sampai Rp20 ribu per liter,” ungkapnya.
Lonjakan harga minyak dunia sendiri terjadi seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah global bahkan sempat menembus angka US$108 per barel dalam perdagangan Kamis lalu, menjadi salah satu level tertinggi sejak Mei 2026.
Harga minyak kembali melonjak hingga berada di atas US$100 per barel dalam beberapa hari terakhir akibat meningkatnya eskalasi konflik di sejumlah jalur strategis perdagangan energi dunia, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah.
Situasi semakin kompleks setelah terjadi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran juga meningkatkan serangan di kawasan Arab Saudi dan Selat Bab al-Mandab.
Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan minyak dunia. Para pelaku perdagangan energi pun meningkatkan pembelian minyak mentah sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan pasokan yang diperkirakan dapat berlangsung lebih lama.
Kondisi ini pada akhirnya mendorong harga minyak dunia terus bergerak naik dan menimbulkan kekhawatiran terhadap dampaknya terhadap harga energi, termasuk harga BBM di berbagai negara.
Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM juga berpotensi merasakan dampak dari ketidakstabilan geopolitik global tersebut. Pemerintah dan Pertamina kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengendalikan harga energi di tengah situasi internasional yang semakin tidak menentu.













