Home / Opini

Senin, 8 September 2025 - 09:21 WIB

Aceh, Sentra Baru Olahraga Petanque di Indonesia

Drs. Abdurrahman, M.Kes. Palatih Pelatnas Petanque

Drs. Abdurrahman, M.Kes. Palatih Pelatnas Petanque

Drs. Abdurrahman, M.Kes
Dosen Olahraga FKIP USK
Dewan Kehormatan FOPI Aceh

Saat mendengar kata Petanque, sebagian orang mungkin masih bertanya: olahraga apakah ini? Bola besi yang dilempar ke arah jack kecil sering dianggap hanya permainan rekreasi. Namun, siapa sangka, olahraga yang lahir di Prancis ini kini menjadi salah satu cabang resmi dalam kejuaraan olahraga internasional, bahkan sudah dipertandingkan di SEA Games dan berpotensi masuk Olimpiade.

Di Indonesia, geliat Petanque mulai terasa dalam satu dekade terakhir. Saat ini sudah 33 provinsi aktif membina atlet dan menggelar turnamen, tetapi ada satu daerah yang menyimpan potensi besar untuk menjadi “rumah baru” Petanque: Aceh.

Mengapa Aceh?

Aceh bukan sekadar tanah rencong dengan sejarah panjang dan budaya kuat. Aceh juga dikenal sebagai provinsi yang konsisten mendorong pembangunan olahraga. PON XXI Aceh–Sumut yang baru saja berlalu menjadi saksi bahwa provinsi ini mampu menjadi tuan rumah perhelatan olahraga terbesar di tanah air.

Momentum pasca-PON inilah yang seharusnya tidak berhenti begitu saja. Infrastruktur olahraga yang telah dibangun, jaringan komunikasi antar-daerah, serta semangat masyarakat yang tinggi bisa diarahkan untuk mengembangkan cabang-cabang olahraga potensial, termasuk Petanque.

Baca Juga  Ancol Siapkan Spektakel 1.000 Drone dan Hiburan Megah, Targetkan 150 Ribu Pengunjung Malam Tahun Baru!

Namun, ada satu persoalan mendasar yang perlu kita akui dengan jujur: peran akademisi dalam dunia olahraga kita masih jauh dari optimal. Kampus dan sekolah sering kali hanya menjadikan olahraga sebatas aktivitas pendidikan atau kegiatan rekreasi, belum mampu menghubungkannya dengan prestasi yang terukur.

Padahal, akademisi memiliki peran strategis untuk menjembatani olahraga pendidikan menuju olahraga prestasi. Melalui penelitian, evaluasi performa, hingga penerapan sport science, mereka bisa melahirkan metode pembinaan yang lebih efektif. Sayangnya, hal ini belum sepenuhnya berjalan.

Di Aceh, jika kita ingin menjadikan Petanque sebagai olahraga unggulan daerah, maka akademisi harus ikut turun tangan. Dibutuhkan bukan hanya pelatih atau klub, tetapi juga laboratorium olahraga, pusat riset, dan kajian ilmiah yang terintegrasi dengan pembinaan atlet.

Bayangkan jika Aceh memiliki Pusat Riset Olahraga yang mampu mengukur kecepatan reaksi atlet, akurasi lemparan, aspek psikologis, hingga strategi permainan Petanque. Data-data ini akan menjadi bekal berharga untuk melahirkan atlet berkualitas dunia.

Integrasi riset dengan event olahraga seperti PORA, kejuaraan mahasiswa, hingga kejuaraan nasional akan menciptakan ekosistem olahraga yang lengkap: ada pembinaan, ada kompetisi, dan ada penelitian. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi penentu, karena hanya dengan basis akademik yang kuat, olahraga Aceh dapat naik kelas.

Baca Juga  Guncangan di Korsel: Pejabat Senior Mundur Massal, Presiden Yoon Terancam Lengser dan Ditahan

Petanque selama ini masih dianggap olahraga pinggiran, kalah populer dibanding sepak bola atau bulutangkis. Tetapi Aceh punya peluang besar membalik pandangan itu. Jika pemerintah daerah, KONI, Dispora, dan perguruan tinggi mampu bekerja sama, Petanque bisa menjelma menjadi ikon baru olahraga Aceh.

Lebih dari itu, keberhasilan Aceh mengembangkan Petanque akan memberi pesan penting: bahwa olahraga bukan hanya soal siapa yang populer, tetapi siapa yang serius membina dengan dasar keilmuan. Bila Aceh menjadi sentra Petanque, provinsi ini akan tercatat sebagai pelopor yang berani mengangkat cabang olahraga baru ke level prestasi nasional.

Pasca-PON, Aceh memiliki kesempatan emas untuk menentukan arah baru dalam pembangunan olahraga. Jangan biarkan semangat yang sudah menyala redup begitu saja. Petanque adalah peluang—sebuah pintu untuk menjadikan Aceh bukan hanya sebagai tuan rumah olahraga, tetapi juga sebagai pusat lahirnya prestasi baru yang berbasis riset.

Pertanyaannya, apakah akademisi, pemerintah, dan masyarakat siap bergandeng tangan menjadikan Aceh sebagai sentra baru Petanque di Indonesia?

Share :

Baca Juga

Opini

Kamu Terlalu Sibuk Dengan Doamu 5 Tahun ke Depan, Padahal Saat Ini Adalah Doamu 5 Tahun Lalu yang Kau Langitkan

Opini

Puasa Bukan Alasan Tubuh Lelah Massage Bisa Menjadi Jawabannya

Opini

Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadhan Bisa Lebih Sehat dari Program Diet Modern

Opini

Negeriku Dilanda Bencana

Opini

Om Khai Kecam Bupati Aceh Selatan ke Luar Negeri di Masa Bencana

Opini

Teachers Are No Longer the Primary Source of Knowledge: So What Is Their Role in the AI Era?

Opini

Guru dan AI, Guru Bukan Lagi Sumber Utama. Lalu Apa Fungsi Esensial Mereka Sekarang?

Opini

Peran Guru dalam Proses Pembelajaran di Era Digital