Bidik24.com – Opini – Car Free Day (CFD) kini kembali menjadi salah satu kegiatan favorit warga Banda Aceh. Setelah sempat berhenti beberapa waktu, kegiatan ini hadir lagi dan langsung disambut antusias masyarakat. Setiap Minggu pagi, mulai pukul 06.30 hingga 11.00 WIB, kawasan Jalan Daud Beureueh—dari Simpang Lima sampai Jambo Tape—disulap menjadi ruang bebas kendaraan. Warga tumpah ruah bersepeda, jogging, senam, hingga sekadar berjalan santai menikmati udara tanpa asap knalpot.
Di era serba cepat dan penuh ketergantungan pada kendaraan bermotor, CFD menjadi pengingat pentingnya bergerak dan menjaga kesehatan. Banyak dari kita yang, karena kesibukan, sering melewatkan waktu untuk olahraga. CFD mengajak kita berhenti sejenak dari rutinitas, keluar rumah, dan menikmati kota yang lebih segar. Menghirup udara bersih sambil beraktivitas fisik sederhana sudah cukup memberikan energi positif bagi tubuh dan pikiran.
Namun, CFD tidak hanya tentang menutup jalan bagi kendaraan. Lebih dari itu, ia hadir sebagai ruang sosial yang hangat. Keluarga datang bersama anak-anak, komunitas olahraga berkumpul, dan masyarakat dapat bersilaturahmi dalam suasana santai. Anak-anak bebas berlari, sepeda kecil berlalu-lalang, dan orang dewasa bisa bersosialisasi sambil berkeringat sehat. Inilah bentuk kebersamaan yang jarang kita temui di hari-hari biasa.
Saya pernah mengikuti CFD di Banda Aceh, dan benar-benar merasakan bedanya suasana kota tanpa kendaraan. Udara lebih bersih, suasana lebih damai, dan wajah-wajah masyarakat tampak lebih bahagia. Pengalaman seperti ini tentu ingin terus dirasakan, dan menjadi alasan kenapa CFD penting untuk dipertahankan.
Dari sisi lingkungan, manfaatnya juga sangat jelas. Meski hanya berlangsung beberapa jam, berkurangnya emisi kendaraan memberikan dampak nyata terhadap kualitas udara. Langkah sederhana seperti ini, jika rutin dilakukan, bisa menjadi bagian dari upaya besar dalam menjaga lingkungan kota.
Tentu Pemerintah Kota Banda Aceh dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) memegang peran besar dalam kelancaran kegiatan ini—mulai dari pengaturan lalu lintas hingga penyediaan fasilitas ruang gerak bagi warga. Namun, kesuksesan CFD tetap bertumpu pada partisipasi masyarakat. Tanpa dukungan publik, kegiatan sebagus ini tidak akan berumur panjang.
Sebagai mahasiswa, saya melihat CFD bukan sekadar agenda mingguan, tetapi sarana pendidikan sosial dan lingkungan. Kita belajar untuk lebih peduli pada kesehatan, menghargai ruang publik, dan menjaga kebersihan. Namun masih ada tantangan—beberapa pengunjung belum sepenuhnya sadar pentingnya menjaga kebersihan area CFD. Sampah plastik kadang masih terlihat berserakan setelah kegiatan berakhir. Padahal esensi CFD adalah hidup sehat dan peduli lingkungan. Karenanya, kesadaran bersama harus terus ditingkatkan.
Menariknya, CFD juga memberi ruang bagi UMKM lokal. Pedagang minuman sehat, makanan ringan, hingga perlengkapan olahraga menikmati momentum ini sebagai peluang usaha. Ini bukti bahwa CFD bukan hanya menyehatkan tubuh dan lingkungan, tetapi juga turut menggerakkan ekonomi lokal.
Bagi saya, CFD Banda Aceh adalah bukti bahwa hal sederhana bisa memberi dampak besar. Ia mengajarkan keseimbangan antara menjaga kesehatan pribadi dan merawat bumi. Di tengah kesibukan modern yang membuat kita mudah lupa berolahraga dan kurang peduli lingkungan, CFD menjadi pengingat bahwa hidup sehat dan bumi hijau dapat dimulai dari langkah kecil.
Generasi muda seharusnya menjadi motor utama kegiatan seperti ini—bukan hanya hadir untuk olahraga, tetapi juga memberi contoh menjaga kebersihan, mengajak teman ikut serta, dan menciptakan suasana positif. Jika semua pihak berperan, CFD bukan lagi sekadar agenda mingguan, melainkan budaya sehat masyarakat kota.
Menjaga lingkungan dan kesehatan bukan pekerjaan instan. Namun melalui CFD, Banda Aceh menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana: jalanan bebas kendaraan, udara lebih bersih, tubuh lebih bugar, dan masyarakat lebih bersahabat. Semoga kegiatan ini terus dilaksanakan dan semakin banyak warga yang sadar bahwa melindungi lingkungan berarti menjaga masa depan kota dan generasi mendatang.
Penulis:
Zuhrina,
Mahasiswi PJKR FKIP USK















