Home / Energi

Rabu, 16 September 2026 - 08:31 WIB

Krisis BBM Dunia Memuncak, Pasokan Minyak Makin Tertekan

BIDIK24.COM — JAKARTA, 16 September 2026. Kekhawatiran yang selama berbulan-bulan disampaikan para eksekutif industri minyak Amerika Serikat (AS) kini mulai terlihat nyata. Gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran dan distribusi energi Timur Tengah membuat pasar minyak dunia menghadapi tekanan pasokan yang semakin serius.

Penutupan dan terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, ditambah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, membuat aliran minyak mentah dan produk olahan ke pasar internasional semakin terbatas.

Wall Street Journal melaporkan, stok bahan bakar komersial global telah terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Di saat yang sama, cadangan minyak strategis sejumlah negara juga semakin terkuras. Kondisi tersebut membuat pasar energi memiliki ruang yang lebih sempit untuk menyerap gangguan pasokan baru.

Tekanan terhadap pasar minyak bertambah setelah East-West Pipeline milik Arab Saudi mengalami serangan drone dan kemudian dihentikan sementara. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut merupakan salah satu jalur penting yang memungkinkan minyak Arab Saudi dikirim menuju Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Reuters melaporkan bahwa jalur tersebut sebelumnya mampu mengangkut sekitar 4–5 juta barel minyak per hari. Penghentian sementara pipa membuat kekhawatiran terhadap kemampuan Arab Saudi mempertahankan kelancaran ekspor semakin besar.

Sejumlah laporan memperkirakan gangguan pada jalur alternatif tersebut dapat menahan jutaan barel minyak dari pasar global. Pemerintah Arab Saudi kemudian berupaya memperbaiki kerusakan, sementara Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pipa tersebut diharapkan dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari. Namun, sejumlah laporan lain memperkirakan perbaikan penuh bisa membutuhkan waktu lebih lama.

Dampaknya langsung terasa di pasar energi.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah AS melonjak tajam dan mendekati bahkan menembus level 100 dollar AS per barel. Pada perdagangan 14 September, harga Brent sempat berada di sekitar 107–108 dollar AS per barel, sementara WTI juga bergerak di atas 100 dollar AS.

Kenaikan tersebut kemudian merembet ke harga bahan bakar di tingkat konsumen Amerika Serikat.

Baca Juga  Meski Defisit Rp401 Triliun, Presiden Prabowo Klaim APBN 2024 Dikelola dengan Bijak di Tengah Krisis Global!

Harga diesel AS dilaporkan mencapai sekitar 6,23 dollar AS per galon, sementara bensin berada di kisaran 4,32 dollar AS per galon. Lonjakan diesel menjadi perhatian khusus karena bahan bakar tersebut digunakan secara luas oleh kendaraan angkutan, industri, alat berat, hingga sektor pertanian.

CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan bahwa berbagai instrumen yang selama ini digunakan industri untuk meredam guncangan pasokan dan harga minyak semakin terbatas.

Menurutnya, sejumlah cadangan dan mekanisme penyangga yang sebelumnya dapat digunakan ketika terjadi gangguan pasokan kini telah banyak terpakai.

Wirth juga menyatakan bahwa sulit memperkirakan kapan kondisi pasar akan kembali normal. Dalam situasi seperti sekarang, gangguan baru terhadap produksi atau distribusi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dan BBM.

Tekanan terhadap pasar juga datang dari China, salah satu konsumen minyak terbesar dunia.

Setelah sebelumnya memanfaatkan cadangan domestik untuk memenuhi sebagian kebutuhan energinya, China kini kembali melakukan pembelian minyak dalam jumlah besar dari pasar internasional.

Jika pembelian tersebut terus meningkat ketika pasokan global sedang terbatas, persaingan antarnegara untuk mendapatkan minyak dapat semakin ketat.

Persoalan terbesar adalah ketidakpastian mengenai berapa lama konflik di kawasan tersebut akan berlangsung.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Ketika aktivitas kapal tanker di kawasan tersebut terganggu, negara-negara pengimpor minyak harus mencari jalur alternatif yang kapasitasnya jauh lebih terbatas.

Gangguan juga terjadi di kawasan Laut Merah dan Bab al-Mandab. Perkembangan kelompok Houthi di Yaman dan meningkatnya serangan terhadap jalur serta fasilitas energi menambah risiko terhadap rantai pasok minyak global.

Sejumlah pelaku industri memperkirakan persoalan ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Bahkan jika Selat Hormuz kembali beroperasi normal, pengisian kembali cadangan minyak dan produk olahan membutuhkan waktu.

Salah satu persoalan yang paling dikhawatirkan adalah ketersediaan diesel.

Berbeda dengan bensin, diesel memiliki peran sangat besar dalam kegiatan ekonomi. Truk pengangkut barang, kapal, alat berat, mesin industri, hingga kendaraan pertanian banyak bergantung pada bahan bakar tersebut.

Baca Juga  Rp104,8 Miliar untuk Nelayan: Pemerintah Siapkan Bantuan Besar untuk Sektor Perikanan Tangkap!

Kondisi ini menjadi semakin sensitif ketika memasuki musim panen di Amerika Serikat. Kebutuhan bahan bakar untuk mesin pertanian meningkat pada saat pasokan diesel justru mengalami tekanan.

Karena itu, gangguan pasokan diesel tidak hanya berpotensi menaikkan biaya transportasi, tetapi juga dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai barang.

Pemerintah Amerika Serikat berupaya meredakan tekanan dengan mendorong peningkatan produksi minyak dan bahan bakar.

Salah satu opsi yang didorong adalah peningkatan produksi minyak Venezuela, selain memperbesar kapasitas pengolahan bahan bakar di dalam negeri.

Pejabat AS juga melakukan komunikasi dengan perusahaan-perusahaan energi dan pengelola kilang untuk mencari cara meningkatkan pasokan bahan bakar domestik.

Namun, peningkatan produksi tidak dapat dilakukan secara instan. Pembangunan kapasitas produksi, pengolahan, transportasi, serta distribusi membutuhkan waktu.

Yang membuat kondisi saat ini semakin diperhatikan adalah karena risiko tersebut sebenarnya sudah diperingatkan jauh sebelumnya.

Pada Maret lalu, para pimpinan perusahaan minyak besar AS, termasuk ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips, telah memperingatkan pemerintah mengenai potensi kelangkaan produk olahan seperti diesel apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung dalam waktu lama.

Kini, beberapa bulan kemudian, pasar energi menghadapi kondisi yang dikhawatirkan tersebut: jalur distribusi terganggu, cadangan menipis, harga meningkat, sementara konflik di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan penyelesaian yang jelas.

Krisis ini menunjukkan bahwa persoalan minyak dunia bukan hanya mengenai berapa banyak minyak yang tersedia di dalam tanah, tetapi juga mengenai kemampuan membawa minyak tersebut dari lokasi produksi menuju kilang dan akhirnya ke konsumen.

Selama jalur-jalur strategis seperti Selat Hormuz dan jalur alternatif di kawasan Timur Tengah masih menghadapi gangguan, pasar energi global akan tetap berada dalam kondisi rentan terhadap kenaikan harga dan kekurangan pasokan.

Sub. kompas.com

Share :

Baca Juga

Energi

Kabar Baik, Pertalite Rp 10.000 Bertahan sampai 2026

Energi

B50 Resmi Dijual, Harga Biosolar Bikin Kaget

Energi

Gas Industri Turun, Mampukah Ekonomi Melaju?

Bisnis

Nvidia Siap Menguasai Dunia Robotik, AI Jadi Katalisator Kejayaan Baru!

Bisnis

Mulai 1 Januari 2025, Harga BBM Nonsubsidi Naik Tajam! Ini Daftar Lengkap Kenaikan Harga Pertamax dan Jenis BBM Lainnya

Bisnis

PPN 12% untuk Barang Mewah Resmi Berlaku: Hunian Elite hingga Yacht Kena Imbas, Tapi Bahan Pokok Tetap Bebas Pajak!

Bisnis

PPN 12% Barang Mewah Bikin Industri Hotel dan Restoran Tercekik, Daya Beli Masyarakat Terancam Anjlok!

Ekonomi

PPN 12% untuk Barang Mewah, DPR Beri Apresiasi pada Prabowo: Kebijakan Pro-Rakyat atau Sekadar Formalitas!