Bidik24.com – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengungkapkan instruksi dari Presiden Prabowo Subianto mengenai kenaikan harga MinyaKita.
Arief menyatakan bahwa Presiden Prabowo meminta Perum Bulog untuk terlibat dalam distribusi MinyaKita.
“Beliau (Prabowo) menegaskan bahwa distribusi MinyaKita akan dibantu oleh BUMN di sektor pangan, khususnya Bulog. Meskipun selama ini Bulog dan RNI (ID Food) telah berperan,” ujar Arief saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Graha Mandiri, Jakarta Pusat, pada Senin (9/12/2024).
Arief menambahkan bahwa hari ini, mereka mengadakan rapat dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk membahas distribusi MinyaKita.
“Stok (MinyaKita) akan dikuasai oleh BUMN agar distribusinya bisa kami kontrol sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp 15.700,” kata Arief.
Distribusi ke wilayah Indonesia timur, terutama Papua Tengah dan Papua Pegunungan, menjadi perhatian utama pemerintah.
“Fokus kami adalah Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan daerah lain yang memerlukan intervensi dari kami semua. Masalah ini berkaitan dengan distribusi,” jelas Arief.
Dikutip dari Kompas.id, sejak awal Juli 2024, harga rata-rata MinyaKita meningkat sebesar 5,56 persen, minyak goreng curah naik 9,49 persen, dan minyak goreng kemasan premium meningkat 1,9 persen.
Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) per 2 Desember 2024, harga rata-rata nasional untuk MinyaKita mencapai Rp 17.100 per liter, minyak goreng curah Rp 17.300 per liter, dan minyak goreng kemasan premium Rp 21.500 per liter.
Dalam rapat pengendalian inflasi yang diadakan oleh Kementerian Dalam Negeri pada Senin (2/12/2024), Deputi III Bidang Perekonomian Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono mengidentifikasi lima faktor yang menyebabkan harga MinyaKita tetap tinggi.
Pertama, rantai distribusi MinyaKita lebih panjang dari yang seharusnya.
Kedua, harga minyak goreng dipengaruhi oleh tingginya harga minyak sawit mentah (CPO).
Ketiga, permintaan MinyaKita meningkat karena harga minyak goreng curah yang lebih tinggi, sehingga banyak konsumen beralih ke MinyaKita.
Keempat, terdapat dugaan adanya penyelundupan MinyaKita ke pasar curah.
Pada 2023, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan kasus di mana kemasan MinyaKita dibuka dan dijual sebagai minyak curah dengan harga lebih tinggi, yang menyebabkan pasokan di pasar berkurang.
Terakhir, ada dugaan bahwa minyak goreng curah diselundupkan ke luar negeri atau diekspor sebagai minyak bekas (jelantah) untuk bahan baku biodiesel.
Dugaan ini pernah dilaporkan oleh perwakilan asosiasi pengusaha dalam rapat koordinasi di Kemendag pada 28 November 2024.
Sumber: KOMPAS.com















