Bidik24.com dikutip dari laman lamurionline.com ACEH BESAR – Curah hujan yang sangat tinggi selama seminggu terakhir mengakibatkan area persawahan di Kecamatan Simpang Tiga, Aceh Besar, terendam banjir hingga menyerupai lautan. Sebanyak 190 hektar sawah terdampak banjir, merusak tanaman padi yang rata-rata berusia 14 hari setelah tanam (HST), sehingga petani harus melakukan penanaman ulang.
“Seluruh wilayah Kecamatan Simpang Tiga terkena dampak banjir, terutama daerah yang dekat dengan gunung. Luas sawah yang terendam berdasarkan data dari petugas di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Simpang Tiga mencapai 190 hektar dari total 572 hektar,” ujar Khaidir, Koordinator BPP Simpang Tiga.
Suriana, salah satu penyuluh pertanian, menyampaikan kesedihan para petani atas kerusakan padi mereka. “Petani sangat terpukul. Mereka bingung mencari benih baru untuk persemaian dan penanaman ulang setelah banjir surut,” katanya.
Banjir ini berdampak pada berbagai tahap pertumbuhan tanaman padi, mulai dari padi yang baru ditanam, yang sudah berusia hingga 35 HST, hingga area persemaian. Ketua KTNA Kecamatan Simpang Tiga, Muhammad, menjelaskan bahwa area persemaian dan padi yang berusia di bawah 20 HST adalah yang paling terdampak, sehingga harus disemai dan ditanam ulang.
Petani di daerah ini sangat membutuhkan bantuan benih dari pemerintah. Pairan, petani di Gampong Nya, menyatakan harapannya agar pemerintah dapat memberikan bantuan benih. “Kami tidak memiliki benih padi lagi. Kami sangat memerlukan bantuan dari pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten,” ungkap Pairan, yang akrab disapa Bang Ucok.
Hal serupa disampaikan oleh Nurhayati, salah satu petani wanita di lokasi. Ia berharap bantuan benih dapat segera datang agar proses penanaman bisa dilakukan segera setelah banjir surut. Dampak banjir ini tidak hanya menjadi cobaan berat bagi para petani, tetapi juga menggambarkan pentingnya perhatian serius dari pihak terkait untuk mendukung keberlanjutan sektor pertanian di wilayah Aceh Besar.*















