Home / Opini

Rabu, 8 Januari 2025 - 14:51 WIB

Program Makan Bergizi Gratis: Senjata Ampuh Lawan Stunting dan Bangkitkan Ekonomi Lokal

Petugas dapur umum tengah menyiapkan paket makan bergizi untuk disalurkan kepada penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dirancang untuk membantu mengurangi angka stunting dan mendukung ekonomi lokal melalui pemanfaatan sumber daya setempat

Petugas dapur umum tengah menyiapkan paket makan bergizi untuk disalurkan kepada penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dirancang untuk membantu mengurangi angka stunting dan mendukung ekonomi lokal melalui pemanfaatan sumber daya setempat

Bidik24.com, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati, menyatakan keyakinannya bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat Indonesia jika dilaksanakan dengan baik. Program ini dinilai mampu menjadi salah satu langkah strategis dalam mempercepat penurunan angka stunting di Tanah Air.

“Dengan pengawasan ketat, pemanfaatan sumber daya lokal, serta komunikasi dan edukasi yang efektif kepada masyarakat, saya optimis program ini akan berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi bangsa,” ujar Kurniasih dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu.

Target Penurunan Stunting
Kurniasih berharap Program MBG dapat menurunkan prevalensi stunting di Indonesia hingga berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu kurang dari 20 persen. Target ini diharapkan dapat tercapai pada tahun pertama pelaksanaan program.

Program MBG dirancang untuk menyasar kelompok rentan yang meliputi anak-anak usia PAUD hingga SMA, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pada tahap awal, sekitar tiga juta penerima manfaat akan mendapatkan layanan ini dalam tiga bulan pertama. Jumlah ini ditargetkan meningkat menjadi enam juta penerima manfaat pada tiga bulan berikutnya.

Baca Juga  KETUA KONI TERPILIH BAHTIAR, ST., M.Si PIMPIN KONI ACEH BESAR

Fasilitas dan Penyediaan Makanan Bergizi
Untuk mendukung pelaksanaan program, sebanyak 937 dapur umum telah disiapkan di berbagai wilayah. Setiap dapur umum memiliki kapasitas produksi harian sebesar 3.000 hingga 3.500 paket makan bergizi. Setiap paket telah disesuaikan dengan kebutuhan kalori penerima: 600 kalori untuk siswa SMP dan 300 kalori untuk siswa SD.

Dokter spesialis gizi klinik, Luciana B. Sutanto, menjelaskan bahwa jumlah kalori yang diberikan telah disesuaikan dengan pedoman gizi seimbang untuk sekali makan. “Menu yang disediakan dalam program ini sudah dirancang sesuai kebutuhan nutrisi harian anak,” jelasnya.

Manfaat Ekonomi dari Program MBG
Selain memberikan dampak positif pada kesehatan dan gizi, Kurniasih menyoroti potensi Program MBG dalam mendorong perekonomian lokal. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti hasil pertanian dan peternakan setempat, program ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan peternak, serta mencegah surplus panen yang terbuang.

“Pemanfaatan bahan pangan lokal tidak hanya memastikan keberlanjutan program, tetapi juga membantu menggerakkan ekonomi pedesaan. Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan gizi masyarakat dan penguatan ekonomi lokal,” tambah Kurniasih.

Baca Juga  Peringatan Kim Jong Un: Rudal Hipersonik Korut Siap Hancurkan Musuh di Pasifik

Selain itu, program ini juga membuka peluang kerja baru di berbagai sektor, seperti pengelolaan dapur umum, pengemasan makanan, transportasi, hingga pengawasan di lapangan. “Ini menjadi solusi yang relevan di tengah tingginya angka pengangguran saat ini,” tegasnya.

Optimisme Pelaksanaan
Dengan dukungan infrastruktur, sumber daya manusia, dan pengelolaan yang terencana, Program MBG diyakini dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat Indonesia. Kurniasih berharap keberhasilan program ini tidak hanya mampu menurunkan angka stunting, tetapi juga menciptakan ekosistem sosial dan ekonomi yang lebih sehat dan berdaya saing.

“Program ini adalah salah satu solusi menyeluruh untuk menciptakan generasi yang lebih sehat sekaligus mendukung kebangkitan ekonomi lokal. Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, saya optimis tujuan besar program ini dapat tercapai,” pungkasnya.

Sub Antaranews.com

Share :

Baca Juga

Opini

Technology in Education: Tool or Trap

Berita

Dua Hari, Dua Dunia: Mengapa May Day Begitu Riuh dan Hardiknas Begitu Sunyi?

Opini

Kamu Terlalu Sibuk Dengan Doamu 5 Tahun ke Depan, Padahal Saat Ini Adalah Doamu 5 Tahun Lalu yang Kau Langitkan

Opini

Puasa Bukan Alasan Tubuh Lelah Massage Bisa Menjadi Jawabannya

Opini

Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadhan Bisa Lebih Sehat dari Program Diet Modern

Opini

Negeriku Dilanda Bencana

Opini

Om Khai Kecam Bupati Aceh Selatan ke Luar Negeri di Masa Bencana

Opini

Teachers Are No Longer the Primary Source of Knowledge: So What Is Their Role in the AI Era?