Home / Opini

Senin, 13 Januari 2025 - 14:46 WIB

Menu Monoton Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Kurang Efektif

 Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di SDN Bangka 01 Pagi, Jakarta Selatan, di mana siswa-siswa menerima makanan bergizi seperti nasi putih, ayam goreng mentega, tempe orek, tumis kacang panjang, dan buah pepaya. Foto ini menggambarkan suasana kegiatan yang berlangsung di sekolah sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik

Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di SDN Bangka 01 Pagi, Jakarta Selatan, di mana siswa-siswa menerima makanan bergizi seperti nasi putih, ayam goreng mentega, tempe orek, tumis kacang panjang, dan buah pepaya. Foto ini menggambarkan suasana kegiatan yang berlangsung di sekolah sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik

Bidik24.com, Jakarta – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia dari DKI Jakarta, Happy Farida Djarot, mengusulkan agar pemerintah memberikan variasi menu pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan kepada siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat SMA, terutama di wilayah Jakarta Selatan (Jaksel). Hal ini ia sampaikan setelah menyaksikan pelaksanaan program MBG di SDN Bangka 01 Pagi, Jakarta, pada Senin (13/1/2025).

Menurut Happy Djarot, meskipun menu yang disajikan dalam program ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak-anak, namun ia menilai pemberian makanan yang sama untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, harus dievaluasi. “Pemberian makanan ini mulai dari PAUD hingga SMA dengan menu yang serupa, hanya berbeda dalam nilai kalorinya. Saya rasa, ini perlu dievaluasi lebih lanjut,” ujar Happy.

Ia menambahkan, penting untuk memastikan bahwa makanan yang diberikan benar-benar mengandung gizi yang optimal bagi tumbuh kembang anak. “Kandungan gizi dan kalori dalam makanan harus diperhatikan secara lebih cermat agar tidak ada anak yang mengalami reaksi alergi. Kita juga harus terus mengevaluasi program ini agar benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan anak-anak kita,” jelas Happy.

Baca Juga  CFD Banda Aceh Langkah Sederhana untuk Kota Lebih Sehat dan Bersih

Selain itu, Happy juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh sekolah dan orangtua dalam mengenalkan pola hidup sehat kepada anak-anak. Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga orangtua yang berperan aktif dalam mendidik anak-anak mereka untuk menghindari konsumsi makanan instan atau tidak sehat. “Edukasi mengenai pola makan sehat ini tidak hanya tugas pemerintah, tetapi orangtua juga harus berperan aktif di rumah,” tambahnya.

Pada pelaksanaan program MBG kali ini, sebanyak 261 siswa dari SDN Bangka 01 Pagi menerima menu yang terdiri dari nasi putih, ayam goreng mentega, tempe orek, tumis kacang panjang, dan potongan buah pepaya. Program ini dilaksanakan serempak di 16 sekolah yang berada di dekat lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kemang, yang dikelola oleh Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSI). Total, ada 2.972 porsi makanan yang diberikan kepada siswa di kawasan tersebut.

Lokasi SPPG Kemang mencakup berbagai sekolah di wilayah Jakarta Selatan, mulai dari PAUD hingga SMA, dengan rincian sebagai berikut:
– PAUD KBN 31 (30 siswa)
– PAUD Asy Syamsiyah (18 siswa)
– SD SKB 31 (19 siswa)
– MI NURUL ISLAM (24 siswa)
– MI Sa’adatulmuslimin (80 siswa)
– SDN 01 Bangka (261 siswa)
– SDN 03 Bangka (241 siswa)
– SDN 07 Bangka (231 siswa)
– MI Al Hidayatussalafiyah (218 siswa)
– MTS Al Hidayatussalafiyah (77 siswa)
– SMPN 124 (653 siswa)
– MTS Darussa’adah Pedurenan (38 siswa)
– SMP SKB 31 (56 siswa)
– SMA SKB 31 (64 siswa)
– SMAN 60 Jakarta (792 siswa)
– SMKS Mitra Pembangunan (170 siswa)

Baca Juga  "Tukar Sampah Jadi Internet Gratis! Aceh Tamiang Tawarkan Solusi Cerdas untuk Masalah Lingkungan"

Pemberian makan bergizi gratis diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan dan kebugaran siswa, sekaligus membantu mereka mendapatkan gizi yang lebih baik untuk mendukung proses belajar. Namun, seperti yang disoroti oleh Happy Djarot, evaluasi terus-menerus mengenai variasi menu dan kandungan gizi dalam makanan yang diberikan sangat penting untuk memastikan program ini berjalan dengan efektif dan dapat memenuhi kebutuhan gizi seluruh siswa yang terlibat.

Sub Antaranews.com

Share :

Baca Juga

Opini

Kamu Terlalu Sibuk Dengan Doamu 5 Tahun ke Depan, Padahal Saat Ini Adalah Doamu 5 Tahun Lalu yang Kau Langitkan

Opini

Puasa Bukan Alasan Tubuh Lelah Massage Bisa Menjadi Jawabannya

Opini

Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadhan Bisa Lebih Sehat dari Program Diet Modern

Opini

Negeriku Dilanda Bencana

Opini

Om Khai Kecam Bupati Aceh Selatan ke Luar Negeri di Masa Bencana

Opini

Teachers Are No Longer the Primary Source of Knowledge: So What Is Their Role in the AI Era?

Opini

Guru dan AI, Guru Bukan Lagi Sumber Utama. Lalu Apa Fungsi Esensial Mereka Sekarang?

Opini

Peran Guru dalam Proses Pembelajaran di Era Digital