Bidik24.com – Banda Aceh. Suasana Pendopo Gubernur Aceh kembali berangsur tenang setelah sempat memanas akibat desakan ratusan warga yang menunggu kepastian pembagian uang meugang menjelang Ramadhan, Rabu (18/2/2026).
Selama tiga hari berturut-turut, ratusan warga dari berbagai wilayah di Banda Aceh dan sekitarnya bertahan di halaman pendopo. Ketidakpastian bantuan yang biasanya rutin diberikan setiap tahun membuat situasi sempat tidak kondusif. Hingga akhirnya, perwakilan Pemerintah Aceh turun langsung membagikan bantuan uang kepada warga dengan pengawalan aparat kepolisian dan Satpol PP-WH.
Pantauan di lokasi menunjukkan, besaran bantuan yang diterima warga bervariasi. Orang dewasa hingga lanjut usia memperoleh Rp100 ribu per orang, sementara anak-anak menerima Rp20 ribu. Bantuan tersebut disambut lega oleh warga, karena dapat digunakan untuk membeli daging meugang jelang bulan suci Ramadhan.
“Alhamdulillah, mudah rezeki Pemerintah Aceh. Sekarang sudah bisa kita beli daging,” ujar seorang warga dengan wajah sumringah usai menerima bantuan.
Meski demikian, hingga kini belum diketahui secara pasti total anggaran yang dikeluarkan. Pihak yang membagikan uang juga enggan memberikan keterangan lebih lanjut.
Sebelumnya, kekecewaan warga mencuat karena bantuan uang meugang yang dinanti tak kunjung terealisasi. Banyak di antara mereka mengaku sudah berhari-hari menunggu tanpa kejelasan.
Nuraini, warga Gampong Ulee Lheue, mengatakan bahwa pembagian uang meugang telah menjadi tradisi turun-temurun. “Dari dulu sampai sekarang, setiap meugang memang selalu ada uang untuk beli daging. Baru kali ini tidak jelas. Sudah tiga hari kami menunggu di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, biasanya warga datang ke pendopo setiap menjelang meugang untuk menerima bantuan. Namun tahun ini, yang mereka terima hanya janji. “Janganlah disakiti hati masyarakat. Kami datang dengan inisiatif sendiri, tapi yang kami dapat hanya janji,” katanya.
Hal serupa disampaikan Julia, warga Alue Naga. Ia mengaku kecewa karena belum ada kepastian, padahal pembagian uang meugang biasanya rutin dilakukan. “Anak saya korban konflik, tapi kami seperti terus dibohongi. Sudah tiga hari kami di sini, hujan-hujanan, tanpa kejelasan,” tuturnya.
Di sisi lain, beberapa warga mengaku datang ke pendopo setelah mendengar kabar akan adanya pembagian uang meugang.
Sub. tribunnews.com















