Bidik24.com – Jakarta. Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih jauh dari kata mereda. Alih-alih menurun, situasi justru semakin panas setelah Departemen Pertahanan Amerika Serikat dikabarkan tengah menyiapkan skenario baru, termasuk opsi operasi darat di wilayah konflik.
Langkah ini seolah mencerminkan prinsip “loe jual gue beli” — jika ditantang, maka akan diladeni. Namun, Iran menunjukkan sikap tak gentar. Mengutip pernyataan Ali Bahreini, Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, negaranya diyakini mampu menghadapi bahkan mengalahkan pasukan gabungan AS dan Israel dalam pertempuran darat.
Pernyataan tersebut muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan, termasuk pengiriman pasukan elite dan ribuan tentara tambahan. Meski demikian, Iran menegaskan telah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi dalam konflik ini. Bahreini bahkan mengingatkan bahwa jika operasi darat benar-benar dilakukan, itu akan menjadi kesalahan besar dengan konsekuensi serius.
Di tengah eskalasi ini, kepentingan Indonesia ikut terdampak. Dua kapal milik Pertamina — yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro — terpaksa berhenti di kawasan Teluk Arab demi menghindari ancaman rudal. Keputusan ini bukan tanpa alasan, mengingat sebelumnya beberapa kapal tanker AS pernah menjadi sasaran serangan Iran di Selat Hormuz pada 14 Maret 2026.
Akibatnya, distribusi bahan bakar minyak ke dalam negeri berpotensi terganggu. Pemerintah Indonesia kini terus mencari jalan keluar agar kapal-kapal tersebut bisa segera melanjutkan perjalanan. Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM mengakui situasi ini penuh tantangan, namun masih memungkinkan untuk diselesaikan melalui upaya diplomasi.
Koordinasi intensif pun terus dilakukan, terutama melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Peran komunikasi dengan pihak Iran menjadi kunci, termasuk melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.
Kabar baik datang dari Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mawengkang, yang menyebut bahwa Iran memberikan respons positif terhadap komunikasi yang dibangun. Saat ini, proses tersebut telah memasuki tahap teknis dan operasional guna memastikan kapal Indonesia dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Dengan situasi yang masih dinamis, diplomasi menjadi harapan utama agar konflik tidak semakin meluas dan kepentingan Indonesia tetap terlindungi.
Sub. kompas.com















