Bidik24.com – Jakarta. Presiden Amerika Serikat (AS) dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara tiba-tiba mengumumkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi Teheran setelah serangan gabungan AS dan Israel ke negara tersebut pada hari Sabtu. Pengumuman ini segera dikonfirmasi oleh stasiun televisi Iran yang melaporkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan di ibu kota, Teheran.
Tidak hanya Ayatollah Khamenei, keluarga dekatnya, termasuk anak, menantu, cucu, dan pengawalnya, juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Sebagai respons, pemerintah Iran menunjuk Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bersama dua pejabat tinggi lainnya untuk memimpin selama periode transisi setelah Khamenei meninggal.
Lalu, bagaimana serangan AS dan Israel dapat menargetkan Khamenei? Mengutip laporan AFP, tewasnya Khamenei tidak lepas dari peran intelijen CIA. CIA telah melacak Khamenei selama berbulan-bulan, mengetahui bahwa ia akan menghadiri pertemuan dengan pejabat tinggi Iran pada Sabtu pagi di kompleks kepemimpinan di pusat Teheran.
Awalnya, AS dan Israel berencana melancarkan serangan pada malam hari. Namun, berdasarkan informasi intelijen yang diberikan CIA, mereka menyesuaikan rencana serangan tersebut. “AS memberikan informasi ini kepada Israel yang kemudian meluncurkan serangan terhadap kepemimpinan Iran,” lapor New York Times. Operasi dimulai sekitar pukul 06:00 pagi waktu Israel, dan sekitar pukul 09:40 pagi, rudal jarak jauh menghantam kompleks tersebut.
Selain Khamenei, dua pemimpin militer Iran lainnya, Jenderal Mohammad Pakpour (kepala Garda Revolusi) dan Ali Shamkhani (penasihat keamanan senior), juga tewas dalam serangan ini. Iran membalas dengan serangan di seluruh Teluk, termasuk di Abu Dhabi dan dekat pangkalan militer AS, meningkatkan ketegangan yang berpotensi menyebabkan konflik regional lebih besar.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa serangan militer AS akan berlanjut “selama diperlukan.”














