Bidik24.com – Jakarta. Politik seringkali disebut sebagai seni kemungkinan, dan bagi Ahmad Sahroni, politik adalah tentang “kepulangan”. Pada Kamis (19/2), ruang rapat pleno pimpinan Komisi III DPR RI menjadi saksi kembalinya sosok yang dijuluki “Crazy Rich Tanjung Priok” itu ke posisi yang pernah membesarkan namanya: Wakil Ketua Komisi III DPR RI.
Pelantikan ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan sebuah babak penutup dari drama perpindahan kursi yang cukup panjang di internal Fraksi NasDem.
Suasana rapat siang itu terasa lugas. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang memimpin jalannya pleno, langsung menuju inti agenda. Dengan nada tegas, ia melemparkan pertanyaan krusial kepada seluruh anggota yang hadir.
“Ahmad Sahroni akan ditetapkan sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI menggantikan Rusdi Masse. Untuk itu kami sebagai pimpinan rapat akan menanyakan kepada Anggota Komisi III DPR RI, apakah Ahmad Sahroni dapat disetujui?” tanya Dasco.
Jawaban “Setuju!” menggema secara serentak di dalam ruangan, diikuti ketukan palu yang meresmikan kembalinya Sahroni ke jajaran pimpinan komisi yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan tersebut.
Kembalinya Sahroni ke kursi pimpinan ini sebenarnya merupakan efek domino dari kejutan politik di awal tahun. Posisi tersebut kosong setelah Rusdi Masse Mappasessu memutuskan untuk mundur dari Fraksi NasDem.
Langkah Rusdi tergolong berani; ia memilih menyeberang dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kepindahan Rusdi diumumkan secara resmi dalam Rakernas PSI di Makassar pada akhir Januari lalu, yang secara otomatis menciptakan kekosongan kursi pimpinan di Komisi III dari jatah Fraksi NasDem.
Bagi publik yang mengikuti rekam jejaknya, posisi ini adalah “rumah lama” bagi Sahroni. Sebelumnya, ia memang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III. Namun, pada Agustus tahun lalu, namanya sempat ditarik dari kursi pimpinan dan dipindahkan menjadi anggota biasa di Komisi I yang membidangi pertahanan dan luar negeri.
Keputusan penarikan Sahroni saat itu diduga kuat merupakan buntut dari gaya bicaranya yang vokal dan rentetan pernyataannya yang viral terkait aksi pedemo di depan gedung DPR. Selama beberapa bulan, Sahroni seolah “menepi” dari hingar bingar isu hukum nasional yang biasa ia tangani.
Kini, dengan resminya pelantikan ini, Sahroni kembali ke habitat aslinya. Publik kini menanti, apakah “Sahroni versi baru” ini akan tetap mempertahankan gaya komunikasinya yang meledak-ledak dan aktif di media sosial, ataukah ia membawa pendekatan baru setelah sempat mencicipi dinamika di Komisi I.
Satu yang pasti, kembalinya Sahroni ke jajaran pimpinan Komisi III menandakan bahwa kepercayaan Fraksi NasDem terhadap kapabilitas komunikasinya masih sangat besar. Di tengah berbagai isu hukum yang sedang memanas, sosok Sahroni diharapkan mampu membawa warna tersendiri dalam pengawasan kerja mitra-mitra besar seperti Polri dan Kejaksaan Agung.
Sub. cnnindonesia.com















