Home / Politik

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:35 WIB

Kalau Mualem Tak Mau, Damai Tak Terjadi, Pengakuan JK

Bidik24.com – Aceh Utara, 12/1/2026. Mantan Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Muhammad Jusuf Kalla, kembali membuka lembaran penting sejarah perdamaian Aceh. Ia mengisahkan detik-detik krusial yang mengantarkan Aceh menuju damai pada 2005, saat konflik panjang antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia akhirnya berakhir.

Kisah itu disampaikan Jusuf Kalla dalam momentum penyerahan bantuan kemanusiaan PMI kepada Pemerintah Aceh yang diterima langsung oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) di Aceh Utara, Senin (12/1/2026). Potongan video pernyataan JK pun dengan cepat menyebar luas dan menjadi perbincangan di berbagai grup WhatsApp.

Dalam penuturannya, JK menegaskan bahwa kunci utama perdamaian Aceh berada di tangan sosok yang memegang kendali senjata di lapangan, yakni Mualem.

“Yang paling penting itu siapa yang pegang senjata. Walaupun di atas mau, tapi kalau panglimanya tidak mau, itu sulit. Kalau Mualem tidak setuju, senjata akan tetap meletus,” ujar JK.

Sejak awal, JK menyadari bahwa jalur komunikasi tidak bisa dilakukan secara berlapis. Ia harus langsung menyentuh pucuk pimpinan GAM di Aceh.

“Saya tahu siapa komandannya, siapa panglimanya. Maka yang pertama harus saya hubungi adalah panglima,” katanya.

Namun, upaya tersebut bukan perkara mudah. Di tengah kebuntuan komunikasi, JK memperoleh informasi penting: Mualem sangat menghormati dan mendengar nasihat ibundanya, yang kini telah wafat.

Berdasarkan informasi itu, ibunda Mualem kemudian diundang ke Jakarta oleh mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh, sebagai bagian dari ikhtiar membuka jalan dialog menuju perdamaian.

“Beliau berbicara di hutan menggunakan bahasa Aceh. Saya tidak paham, tapi diterjemahkan oleh Pak Abdullah Puteh,” kenang JK.

Momen paling menegangkan terjadi saat komunikasi langsung antara JK dan Mualem berlangsung intens.

“Lebih dari satu jam saya berbicara. Handphone sampai panas, baterai habis,” kata JK sambil tersenyum mengenang.

Dari percakapan panjang itulah, titik temu akhirnya tercapai.

“Kesimpulannya kita mau damai. Soal pimpinan di luar negeri itu urusan lain. Tapi kalau Bapak setuju, berarti damai,” tutur JK menirukan isi pembicaraan kala itu.

JK menilai, perdamaian Aceh benar-benar berada di tangan Mualem. Sebagai pemimpin lapangan, Mualem dikenal tegas, disiplin, dan memiliki pengaruh kuat terhadap pasukannya, termasuk dalam struktur GAM di luar negeri.

“Beliau pemimpin yang kuat. Kalau beliau tidak mau, sebesar apa pun tekanan, damai tidak akan pernah terjadi,” tegas JK.

Menurutnya, keberanian Mualem mengambil keputusan besar itulah yang menjadi penentu berakhirnya konflik bersenjata di Bumi Serambi Mekkah.

Baca Juga  Pj Gubernur Safrizal: Investasi Sebagai Motor Penggerak Ekonomi Aceh yang Terhambat!

Sementara itu, Mualem pun mengenang peran besar Jusuf Kalla dalam mengakhiri konflik panjang Aceh.

“Pak Jusuf Kalla layak disebut bapak pencetus perdamaian Aceh. Tahun 2005 kita damai, dan Alhamdulillah hampir 20 tahun kita menikmati kedamaian itu,” ujar Mualem.

Ia berharap komitmen seluruh pihak tetap terjaga agar perdamaian Aceh terus berkelanjutan dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Baca Juga  Skandal Wastafel Rp43 Miliar di Aceh: 7 Tersangka Ditahan, Dugaan Korupsi Kian Menguak

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Aceh menerima bantuan kemanusiaan dari PMI yang diserahkan langsung oleh Jusuf Kalla. Bantuan tersebut meliputi logistik pangan, perlengkapan kebersihan, hingga alat berat seperti mini eskavator dan mesin penyedot lumpur untuk membersihkan sisa material banjir di pemukiman warga.

“Kehadiran dan bantuan ini menjadi bukti bahwa Aceh tidak sendiri. Ini sangat berarti bagi rakyat kami,” kata Mualem.

Bantuan juga mencakup beras, mi instan, air mineral, biskuit, paket makanan, hygiene kit, serta perlengkapan sanitasi guna memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi selama masa pemulihan.

Mualem menyampaikan apresiasi tinggi atas kepedulian PMI Nasional, seraya menegaskan bahwa bantuan tersebut bukan hanya bernilai material, tetapi juga menjadi penyemangat bagi masyarakat Aceh untuk bangkit dari bencana.

“Atas nama Pemerintah Aceh dan seluruh masyarakat Aceh, kami mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Bapak Jusuf Kalla dan seluruh jajaran PMI Nasional,” ujarnya.

Sementara itu, dikutip dari Antara, Jusuf Kalla menyebut saat ini fokus utama adalah proses rehabilitasi wilayah terdampak, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan 2026.

Seluruh bantuan kemanusiaan dikirim melalui Kapal Kemanusiaan PMI Kalla Lines II dan akan didistribusikan secara bertahap ke berbagai daerah terdampak melalui koordinasi antara Pemerintah Aceh, PMI, dan pemerintah kabupaten/kota.

Pemerintah Aceh memastikan seluruh bantuan dimanfaatkan secara optimal, transparan, dan bertanggung jawab demi kepentingan masyarakat.

Sub. aceh.tribunnews.com

Share :

Baca Juga

Politik

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Dinasti Baru Dimulai?

Politik

Anies Baswedan Soroti Munculnya Dinasti Keluarga Demokrasi Indonesia Terancam Ketidaksetaraan

Politik

Kembali ke Komisi III, Sahroni Dilantik Jadi Wakil Ketua

Politik

Dipanggil Polisi, Pandji Siap Buka-bukaan soal Kontroversi “Mens Rea”

Politik

Noel Buka-bukaan di Sidang, Ada Info A1 Menkeu Purbaya Terancam Nasib Serupa

Politik

PAS Nilai “Ribut” Pengunduran di PN Tak Separah Isu Perlis, Optimistis Koalisi Tetap Melaju

Politik

IGORNAS Aceh Siap Gelar Musprov Akhir November 2025, Seluruh Ketua Kabupaten/Kota Akan Hadir

Politik

Setelah Godaan Prabowo, Budi Arie Tinggalkan Bayang-Bayang Jokowi?