Home / Ekonomi

Jumat, 20 Desember 2024 - 15:23 WIB

Rupiah Anjlok ke Rp16 Ribu: Peluang Ekspor atau Ancaman Inflasi?

Menteri Airlangga Hartarto menjelaskan dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian Indonesia, termasuk peluang ekspor dan ancaman inflasi.

Menteri Airlangga Hartarto menjelaskan dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian Indonesia, termasuk peluang ekspor dan ancaman inflasi.

Bidik24.com – Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp16 ribu per dolar AS. Menurutnya, kondisi ini tidak perlu dianggap berlebihan karena sejumlah negara justru memanfaatkan depresiasi mata uang untuk mendorong ekspor.

“Beberapa negara menggunakan pelemahan nilai tukarnya seperti Turki, inflasinya tinggi, tapi ekspornya melonjak karena harga produknya menjadi lebih murah di pasar internasional,” ujar Airlangga dalam acara CNN Indonesia Business Summit, Jumat (20/12).

Ia menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah juga telah diproyeksikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dengan patokan kurs Rp16 ribu per dolar AS.

Baca Juga  Pemerintah Dorong Pengecer LPG 3 Kg Menjadi Agen Resmi

“Kita harus menjaga keseimbangan, tidak perlu terlalu emosional terhadap perubahan nilai tukar. APBN kita sudah memproyeksikan Rp16 ribu per dolar untuk tahun depan,” katanya.

Rupiah sempat mencapai posisi Rp16.307 per dolar AS di pasar spot, Jumat (20/12) pagi, turun 26 poin atau 0,17 persen.

Namun, pelemahan rupiah menimbulkan dampak ekonomi yang perlu diantisipasi. Ekonom dari LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengingatkan bahwa depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya impor, termasuk bahan baku elektronik seperti semikonduktor dan microchip, yang berujung pada kenaikan harga produk elektronik di dalam negeri.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), merinci beberapa barang yang diprediksi mengalami kenaikan harga akibat pelemahan rupiah. Barang-barang tersebut meliputi:

  1. Elektronik: Laptop, ponsel, dan aksesoris.
  2. Peralatan rumah tangga: AC, kulkas, dan TV.
  3. Suku cadang kendaraan bermotor: Mobil, motor, truk, dan kendaraan niaga lainnya.
  4. Bahan pangan: Kedelai, jagung, bawang putih, dan gandum.
  5. Produk energi: BBM, listrik, dan LPG non-subsidi.
Baca Juga  Geger Aceh! Selebgram MD Terjerat Kasus Video Asusila, Karier dan Nama Baik di Ujung Tanduk

Bhima menjelaskan bahwa kenaikan harga barang-barang tersebut dipicu oleh peningkatan biaya produksi akibat depresiasi mata uang, yang kemudian memicu inflasi dalam negeri.

“Imported inflation ini memberi tekanan besar terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas harga di pasar,” ujar Bhima.

sub cnnindonesia

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Lolos Uji Kelayakan DPR, Friderica Widyasari Dewi Pimpin OJK

Ekonomi

AS Kembali Gunakan Kayu Bakar Setelah Penutupan Selat Hormuz

Ekonomi

Ditegur Mahkamah Agung, Trump Pilih Gaspol Perang Tarif

Ekonomi

Antara Tradisi dan Janji, Kisah Uang Meugang di Pendopo

Ekonomi

Kabur ke Luar Negeri, Riza Chalid Resmi Berstatus Buronan Internasional

Ekonomi

Ketua KPK Tanggapi Klaim Noel soal Menkeu Purbaya: Kami Hanya Berpegang pada Fakta Persidangan

Ekonomi

Emas Menggila! Antam Cetak Rekor, Semua Merek Kompak Naik

Ekonomi

Heboh Video TikTok Soal Rekening Jokowi, Kemenkeu Pastikan Itu Berita Bohong