Home / Peristiwa

Sabtu, 4 Januari 2025 - 19:22 WIB

Kepala BPOM: Silent Pandemic! Ancaman Resistensi Antimikroba yang Tak Bisa Diabaikan!

Dalam acara wisuda, Kepala Universitas Prima Indonesia memberikan penghargaan kepada lulusan berprestasi di bidang kedokteran gigi dan kesehatan, menandai pencapaian penting dalam pendidikan kesehatan.

Dalam acara wisuda, Kepala Universitas Prima Indonesia memberikan penghargaan kepada lulusan berprestasi di bidang kedokteran gigi dan kesehatan, menandai pencapaian penting dalam pendidikan kesehatan.

Bidik24.com – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. dr. Taruna Ikrar, PhD, MBiomed, mengingatkan akan risiko silent pandemic yang disebabkan oleh resistensi antibiotik akibat penggunaan antimikroba.

Peringatan ini disampaikannya saat orasi ilmiah di Ballroom Universitas Prima Indonesia (Unpri) Medan, Sumatera Utara, pada Sabtu (4/1/2025), di mana ia juga menerima penghargaan sebagai ilmuwan berpengaruh dari Rektor Unpri, Prof. Dr. Crismis Novalinda Ginting, MKes.

Acara dihadiri oleh Menteri Hukum Supratman Agtas, Penjabat Gubernur Sumatera Utara Hassanudin, serta sejumlah rektor perguruan tinggi.

Taruna menjelaskan bahwa resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme, seperti bakteri dan virus, menjadi kebal terhadap obat-obatan antimikroba, yang memungkinkan mereka bertahan hidup dan berkembang biak.

Fenomena ini bukanlah hal yang terisolasi, melainkan hasil dari proses evolusi yang melibatkan seleksi alam dan adaptasi genetik.

“Setiap kali mikroorganisme terpapar antimikroba, mereka mengalami seleksi ketat, di mana organisme dengan keunggulan genetik akan bertahan dan bereproduksi,” jelasnya.

Taruna juga menyoroti spektrum mikroorganisme yang berpotensi resisten, yang sangat beragam, dengan bakteri sebagai contoh utama.

Bakteri memiliki kemampuan transfer gen horizontal, memungkinkan mereka berbagi informasi genetik resistensi antarspesies, mempercepat penyebaran kemampuan bertahan terhadap antimikroba.

Sejak penemuan antibiotik oleh Alexander Fleming pada 1928, manusia mengalami kemajuan dalam menangani infeksi.

Baca Juga  Gaji ASN 2025 Tertahan: Gaji Ke-13 dan 14 Masih Dalam Perdebatan!

Namun, pemahaman tentang resistensi antimikroba baru berkembang pada 1962, ketika ilmuwan menemukan mekanisme transfer gen resistensi melalui plasmid, yang memfasilitasi pertukaran informasi genetik dan memperumit penyebaran resistensi.

Taruna menggarisbawahi bahwa resistensi antimikroba telah menjadi ancaman global, dengan munculnya strain multidrug resistant (MDR) seperti MRSA dan tuberkulosis resisten obat.

Ini menunjukkan bahwa mikroorganisme telah mengembangkan mekanisme pertahanan yang canggih.

Meskipun awalnya dianggap sebagai terobosan medis, bakteri Staphylococcus aureus dengan cepat menunjukkan resistensi terhadap penisilin, yang diperburuk oleh penggunaan antibiotik yang masif di bidang kedokteran dan peternakan pada dekade 1940-an dan 1950-an.

WHO mengklasifikasikan resistensi antimikroba sebagai salah satu masalah kesehatan global terbesar, yang dapat mengganggu sistem pengobatan modern dan menciptakan krisis kesehatan global yang mengancam sistem layanan kesehatan di seluruh dunia.

Taruna juga menjelaskan bahwa dampak paling parah dari resistensi antimikroba akan dirasakan di negara-negara berkembang, di mana jutaan orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat biaya pengobatan yang meningkat dan hilangnya produktivitas.

Rumah sakit akan terpaksa mengembangkan protokol pengobatan alternatif yang lebih mahal dan kompleks, membuat prosedur medis rutin menjadi berisiko tinggi.

Ekonomi global pun akan terdampak, dengan Bank Dunia memperkirakan kerugian mencapai 100 triliun dolar AS pada 2050.

Baca Juga  Tiga Nelayan Malaysia yang Hanyut di Perairan Aceh Tamiang Berhasil Diselamatkan

WHO memperkirakan 10 juta kematian setiap tahun akibat infeksi resisten, angka yang melebihi kematian akibat kanker.

Taruna menekankan bahwa angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peringatan serius tentang potensi keruntuhan sistem kesehatan global.Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dalam kesehatan manusia dan peternakan menjadi pendorong utama resistensi antimikroba.

Praktik pengobatan mandiri dan penggunaan antibiotik spektrum luas mempercepat penyebaran strain resisten.

Untuk menangani krisis ini, dibutuhkan kolaborasi internasional dan perubahan praktik penggunaan antimikroba di berbagai sektor.

Di Indonesia, resistensi antimikroba memiliki kompleksitas tersendiri, dipengaruhi oleh faktor geografis dan sistem kesehatan yang beragam.

Taruna optimis bahwa penelitian di bidang ini akan berfokus pada pendekatan inovatif, seperti terapi fago, yang menggunakan bakteriofage untuk membunuh bakteri secara spesifik.

Taruna Ikrar adalah ahli farmakologi dan ilmuwan terkemuka di Indonesia, menjabat sebagai Kepala BPOM RI sejak Agustus 2024. Ia memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, meraih gelar dokter dari Universitas Hasanuddin dan gelar PhD dari Niigata University, Jepang.

Karier akademiknya termasuk penelitian di Harvard University dan kepemimpinan di Konsil Kedokteran Indonesia. Taruna telah menghasilkan lebih dari 100 publikasi ilmiah dan menerima berbagai penghargaan atas dedikasinya dalam bidang kesehatan dan penelitian.

Sumber: kompas.com

Share :

Baca Juga

Peristiwa

AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Selat Hormuz Jadi Fokus Perundingan di Qatar

Peristiwa

Gila! Iran Siap Hancurkan Pasukan AS di Darat?

Peristiwa

Iran Tolak Negosiasi AS, Ajukan 5 Syarat Damai Krusial

Peristiwa

AS–Iran Memanas, Trump Tiba-Tiba Tahan Serangan

Peristiwa

Kapal Induk AS USS Gerald R. Ford Terbakar, Ratusan Pelaut Terdampak—Akan Berlabuh di Yunani

Peristiwa

Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD

Peristiwa

Peran Intelijen CIA dalam Pembunuhan Ayatollah Khamenei yang Mengguncang Iran

Peristiwa

Warga Resah Anjing Liar Berkeliaran, DPRK Banda Aceh Dorong Langkah Tegas