Bidik24.com – Tgk Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), wafat pada 3 Juni 2010 di usia lanjut setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Aceh mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir di Gampong Manggra, Indrapuri, Aceh Besar. Ia dimakamkan tepat di samping makam leluhurnya, Pahlawan Nasional Tgk Chik Di Tiro, yang juga merupakan Wali Nanggroe pertama Aceh.
Dalam suasana haru, ulama Tengku Muhibuddin Waly menyampaikan pesan penting, “Semoga kita semua menjaga amanah Wali untuk terus menjaga perdamaian abadi di Aceh.”
Semangat Perdamaian dan Refleksi Milad GAM
Lebih dari 14 tahun setelah perdamaian Aceh terwujud melalui perjanjian damai Helsinki, masyarakat Aceh terus mengenang perjuangan Hasan Tiro dengan cara damai. Milad GAM yang dahulu identik dengan simbol perjuangan bersenjata kini berubah menjadi momen refleksi dan doa bersama untuk menjaga stabilitas dan harmoni di Aceh.
Pada peringatan terakhir, berbagai acara digelar untuk mempererat persatuan. Warga mengadakan doa bersama di masjid-masjid serta kegiatan sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Hal ini mencerminkan semangat masyarakat Aceh untuk menjadikan perdamaian sebagai pilar utama pembangunan daerah.
Semangat yang ditinggalkan Hasan Tiro kini diteruskan oleh generasi baru Aceh, menjadikan perdamaian bukan hanya sebagai hasil perjuangan, tetapi juga sebagai warisan dan tanggung jawab bersama.
sum : acehstory















